PALANGKA RAYA-Bambang Ahmad Pahrul menjadi pelopor durian bakar di Palangka Raya. Usaha durian bakar ia geluti setelah melihat durian lokal dari desa dijual murah.
Berkat usahanya ini harga durian lokal Kalteng terangkat. Ia menjual durian mentega, durian susu, hingga durian Kasongan atau otak undang.
Ketika varietas otak undang viral, harganya melonjak hingga 120–150 persen dari harga biasa, mendekati durian musang king.
Bambang menceritakan usaha yang digeluti ini setelah melihat orang-orang desa memikul durian menggunakan keranjang seperti tas di punggung.
Pemilik Stand Raja Duren Borneo ini menyalakan api kecil yang kini dikenal sebagai pelopor durian bakar pertama di Palangka Raya. Sebuah inovasi sederhana, namun lahir dari empati dan kecintaan terhadap hasil bumi Kalimantan Tengah.
Berlokasi di Jalan Adonis Samad, seberang Casadova Gym Center, lapak Raja Duren Borneo tampak berbeda dari penjual durian kebanyakan.
Bukan hanya tumpukan buah berduri, tetapi ada bara api yang menyala, aroma durian hangat, dan cerita panjang tentang desa, kebun, serta harga yang ingin dibuat lebih adil.
Kecintaan Bambang pada durian tumbuh sejak kecil. Ia mengaku sebagai pencinta durian sejati. Bahkan pernah dalam satu waktu menghabiskan lima buah durian super hingga “mabuk durian”. Dari kegemaran itulah muncul ide: mengapa tidak menjadikan durian sebagai jalan usaha?
“Saya suka durian. Dari kecil. Pernah beli mahal, pembelinya banyak. Dari situ kepikiran, kok durian menarik sekali buat bisnis,” ujarnya saat di wawancara di toko, Rabu (14/1/2026).
Sebelum terjun penuh ke dunia durian, Bambang bekerja selama tujuh tahun di sebuah perusahaan marketing besar di Palangka Raya.
Keinginan untuk mandiri membawanya kembali ke kebun dan desa terutama karena ia melihat langsung bagaimana durian di kampung istrinya, yang berasal dari keluarga Dayak, sering kali tidak dihargai sebagaimana mestinya.
“Di kampung, durian itu seperti nggak ada harganya,” tuturnya.
Raja Duren Borneo sendiri lahir pada 2019, sebelum pandemi. Saat itu, Bambang mengelola hingga 13 lapak dan mampu menyalurkan sekitar 8.000–9.000 biji durian per hari.
Nama “Raja Duren Borneo” melekat setelah aparat lalu lintas memberi label pada mobil-mobil pengangkut durian agar distribusi hasil kebun desa ke kota berjalan lancar.
Namun langkah paling berani Bambang justru ketika ia memilih tidak sekadar menjual durian mentah, melainkan mengolahnya dengan cara berbeda: dibakar.
“Ide durian bakar itu dari browsing. Saya pengen tampil beda di Palangka Raya,” katanya.
Menurut Bambang, durian bakar bukan sekadar sensasi. Proses pembakaran dipercaya dapat mengurangi gas sehingga lebih nyaman dikonsumsi, bahkan bagi pelanggan yang memiliki masalah tensi. Ke depan, ia juga berencana menyajikan durian bakar dengan pulut atau ketan, meski saat ini masih terkendala tenaga dan fasilitas.
Lebih jauh, durian bakar menjadi cara Bambang mengangkat durian lokal Kalteng sebagai varian premium. Ia menjual durian mentega, durian susu, hingga durian Kasongan atau otak udang. Ketika varietas otak udang viral, harganya melonjak hingga 120–150 persen dari harga biasa, mendekati durian musang king.
“Banyak pelanggan bilang durian Kasongan atau mentega lebih enak dari musang king,” ujarnya.
Untuk menjaga kepercayaan, Bambang menerapkan garansi penuh bagi pembeli.
Jika durian yang dibeli hambar, busuk, atau berulat, ia siap mengganti sepenuhnya.
“Garansi 100 persen. Kalau zonk, kita ganti full. Tapi kalau cuma sedikit ulatnya, kita potong harga,” tegasnya.
Kebijakan itu dirasakan langsung oleh pembeli. Arini (17), salah satu remaja yang membeli durian di lapak Raja Duren Borneo, mengaku sempat menemukan sedikit ulat pada buah yang dibelinya.
“Tadi beli yang harga Rp80 ribu, ada ulatnya sedikit aja, nggak semuanya. Di dua biji durennya,” katanya.
“Tadinya saya kira langsung diganti full buahnya, ternyata harganya dipotong. Tapi menurut saya tetap adil,” sambung Arini.
Kejujuran itulah yang ingin terus dijaga Bambang. Meski sesekali harus mendatangkan durian dari luar daerah seperti Pontianak saat Kalteng gagal panen, ia selalu terbuka soal asal buah.
“Kalau dari Pontianak, ya saya bilang Pontianak. Jangan sampai durian Kasongan rusak namanya karena oknum,” ujarnya.
Saat ini, Raja Duren Borneo beroperasi secara musiman, dari Desember hingga Februari. Selain di Jalan Adonis Samad, Bambang juga membuka lapak di kawasan Hiu Putih. Antusiasme pembeli cukup tinggi, namun ia berharap pemerintah dapat menyediakan lokasi khusus pedagang durian agar tidak mengganggu ketertiban kota dan sekaligus menjadi tujuan wisata musiman.
“Kalau pedagang durian difasilitasi, pembeli nyaman, kota rapi, dan petani desa terbantu,” katanya.
Lebih dari sekadar berdagang, Bambang membawa misi sosial: memastikan jerih payah petani desa tidak lagi dihargai murah. Dari bara durian bakar yang menyala di lapaknya, ia ingin mengangkat martabat buah hutan dan kebun Kalimantan Tengah.
“Saya memang pedagang kecil,” ujarnya. “Tapi saya cinta durian, dan saya ingin durian Kalteng lebih dihargai.”
Dari kesedihan melihat durian desa dipikul dan dijual murah, Bambang Ahmad Pahrul menyalakan api di tengah kota. Bara itu kini bukan hanya menghangatkan durian, tetapi juga kepercayaan bahwa kejujuran dan inovasi bisa berjalan seiring. (*/ala)
Editor : Ayu Oktaviana