Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

OPEN OVEN, Panggung Sunyi di Tengah Aroma Dapur Dayak, Abdul Khafizd Persembahkan Cinta dan Rindu untuk Ibu

Agus Pramono • Minggu, 3 Agustus 2025 | 16:00 WIB

 

 

PALANGKA RAYA – Asap yang mengitari dapur dan aroma rempah khas Dayak memenuhi ruangan Huma Inay di Jalan K.R. Muhtar Mahir Mahar, Tjilik Riwut Km 8, Sabtu (2/8/2025).

Pertunjukan Open Oven oleh Khafizd di dapur Huma Inay Jalan K.R. Muhtar Mahir Mahar, Tjilik Riwut Km 8, Sabtu (2/8/2025).RIFQI/KALTENG POS
Pertunjukan Open Oven oleh Khafizd di dapur Huma Inay Jalan K.R. Muhtar Mahir Mahar, Tjilik Riwut Km 8, Sabtu (2/8/2025).RIFQI/KALTENG POS
Di tengah sajian tradisional seperti juhu asem singkah, umbut uwei, dan lais goreng, pertunjukan pantomim berjudul Open Oven karya Abdul Khafizd mencuri perhatian.

Tanpa sepatah kata pun, Khafizd menyampaikan pesan sunyi: bahwa sebuah karya, sekecil apa pun, bisa menjadi jalan hidup bila dikerjakan sepenuh hati.

Sebelum panggung sunyi itu dimulai, suasana Huma Inay lebih dulu hangat oleh aktivitas memasak bersama Yerisevina.

Di dapur terbuka yang sederhana namun akrab, Yeri mengolah bahan-bahan lokal seperti kalakai, jamur, dan umbut uwei menjadi hidangan khas yang menggugah selera.

Peserta yang hadir tak hanya menyimak, tetapi juga ikut serta meracik bumbu dan mencicipi proses memasak yang sarat cerita.

Setelah semua masakan selesai dimasak dan peserta mulai makan bersama, suasana mulai tenang. Tanpa panggung khusus atau dekorasi mewah, pertunjukan Open Oven dimulai begitu saja di dapur.

Meja yang tadi dipakai untuk memasak berubah menjadi tempat Khafizd tampil. Ia berdiri di tengah ruangan, di antara piring dan alat-alat dapur.

Lewat gerakan tubuh dan ekspresi wajah, ia membawakan cerita tanpa bicara. Meskipun sunyi, pertunjukan itu tetap terasa kuat dan membuat penonton diam memperhatikan.

Bagi Abdul Khafizd, Open Oven adalah pertunjukan yang lahir dari rasa kehilangan dan keinginan untuk mengucapkan terima kasih.

Semula, ia ingin membuat karya tentang jamur topik yang ia minati sejak lama. Namun, rencana itu berubah ketika ibunya jatuh sakit.

Di tengah situasi itu, ia merasa perlu membuat sesuatu yang lebih personal, terutama karena sang ibu belum pernah sekalipun menyaksikan karyanya di atas panggung.

“Aku pengen banget punya pertunjukan yang bisa disaksikan ibu, walau cuma kecil. Gak pakai lampu, gak pakai permintaan ini-itu. Sederhana aja, yang penting bisa bilang terima kasih lewat karya,” ucap Khafizd.

Di masa-masa terakhir, sang ibu yang sebelumnya menolak jalan hidup sebagai seniman, justru tiba-tiba memberikan restu.

Itulah momen yang mendorong Khafizd menciptakan sebuah pertunjukan kecil, sederhana, dan tanpa tuntutan teknis, yang awalnya ia bayangkan dipentaskan di rumah sakit tempat ibunya dirawat.

Sayangnya, harapan itu tidak sempat terwujud. Tapi dari pengalaman tersebut, Open Oven menjadi ruang untuk mengenang, mengucap syukur, dan meneguhkan tekad agar tak lagi menunda mimpi yang diyakini.

Pertunjukan Open Oven yang ditampilkan di Huma Inay bukan hanya soal gerakan tubuh. Di balik itu, ada cerita pribadi yang dalam.

Meskipun awalnya dibuat untuk ibunya, Khafizd tetap membawakan pertunjukan ini di hadapan orang-orang yang hadir di acara. Ruang dapur yang dipakai untuk memasak tadi, berubah menjadi tempat pertunjukan.

Tidak ada panggung atau lampu sorot, tapi suasananya terasa hangat dan dekat. Dari atas meja, Khafizd menyampaikan perasaannya tentang ibunya, tentang mimpi, dan tentang keberanian untuk tetap memilih jalan hidupnya sendiri.

Meski hanya berdiri di atas meja dapur, pertunjukan Khafizd tetap membuat penonton terdiam dan memperhatikan.

Gerakannya pelan, tapi penuh arti. Beberapa orang terlihat menunduk, ada juga yang tersenyum kecil seolah memahami apa yang ingin disampaikan. Tanpa dialog atau suara, Open Oven justru terasa jujur dan dekat.

Seolah-olah Khafizd sedang bercerita langsung kepada masing-masing penonton, bukan hanya lewat tubuh, tapi juga lewat perasaan yang ia simpan sejak lama.

Setelah pertunjukan selesai, suasana masih sunyi beberapa saat sebelum akhirnya disambut tepuk tangan pelan.

Beberapa peserta mengaku tidak menyangka bahwa pertunjukan sekecil itu bisa begitu menyentuh. Tanpa perlu kata-kata, mereka bisa merasakan cerita tentang keluarga, kehilangan, dan harapan.

Bagi Khafizd, pentas ini bukan untuk mencari tepuk tangan, tapi sebagai cara untuk mengenang ibunya dan meneguhkan langkahnya sebagai seniman.

Acara hari itu pun berakhir dengan hangat. Setelah pertunjukan, para peserta kembali berkumpul, mengobrol sambil menyelesaikan sisa hidangan.

Meski sederhana, pertemuan itu menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar makan bersama atau menonton pertunjukan. Ia menjadi ruang berbagi tentang rasa, tentang kehilangan, dan tentang keberanian untuk terus berkarya.

Di dapur kecil itu, Khafizd membuktikan bahwa karya tidak harus megah untuk bermakna. Kadang, cukup dengan kejujuran, sebuah karya bisa berbicara jauh lebih dalam. (*rif)

Editor : Agus Pramono
#open oven #sakit #ruang #kalakai #Dayak #ibu #dapur #Abdul Khafizd