Kecintaannya pada madu dan kegelisahannya terhadap peredaran madu oplosan, mendorong Budiyana mendirikan Borneo Mellifera. Kini ia merasakan manisnya bisnis madu murni bernilai puluhan juta rupiah.
BUDHI SEPRATAMA PUTRA, Palangka Raya
UNTUK ke lokasi budi daya madu milik Budiyana di Kalampangan, memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam dari pusat kota apabila menggunakan sepeda motor roda dua. Sesampainya di sana, suasana terasa sejuk, jauh dari kata polusi. Penulis pun disambut dengan ramah oleh Budiyana bersama dengan pekerja lainnya.
“Tahun 2008 saya pertama kali menginjakkan kaki di Kalteng dan bekerja sebagai sopir,” kenang Budiyana kepada wartawan di Borneo Mellifera Kalampangan, Senin siang (8/9/2025).
“Waktu itu hutan masih lebat dan sering saya lihat sarang lebah menggantung di pohon-pohon tinggi jika saya pergi-pergi,” ujar ayah enam orang anak ini.
Namun seiring berjalannya waktu ia mulai gelisah melihat maraknya peredaran madu oplosan di pasaran. Banyak penjual yang mencampurkan madu dengan bahan lain demi keuntungan cepat. “Saya ingin orang bisa merasakan madu yang asli, tanpa campuran apa pun,” ujarnya.
Tahun 2012 Budiyana memutuskan berhenti bekerja dan pergi ke Temanggung, Jawa Tengah (Jateng) untuk belajar membudidayakan lebah mellifera.
Selama dua tahun ia mendalami teknik pemeliharaan lebah, cara memanen hingga mengolah madu dengan benar. Bekal ilmu itu kemudian dibawa pulang ke Kalteng pada 2014 lengkap dengan 10 koloni lebah mellifera pertamanya.
Lokasi di Kalampangan menjadi pilihannya karena lahan sekitar dipenuhi tanaman jagung pakan alami yang sangat baik untuk lebah. Faktor alam yang mendukung membuat proses budidaya berjalan lancar.
Ia juga tidak sendirian. Seorang sahabat bernama Walyono yang ahli dalam perlebahan turut mendampinginya mengembangkan usaha ini.
Usaha Budiyana berkembang pesat. Dalam 11 tahun perjalanan ia pernah memiliki hingga 500 koloni lebah mellifera.
Namun banyaknya permintaan dari pihak perkebunan sawit Budiyana terpaksa menjual koloninya.
“Ada yang minta sampai 70 sampai 150 koloni untuk ditempatkan di perkebunan mereka,” katanya.
Kini Budiyana memulai lagi dari nol. Hampir dua tahun terakhir ia fokus mengembangkan koloni. Saat ini sudah ada 45 koloni lebah mellifera yang ia rawat.
Setiap panen dua bulan sekali hasilnya bisa mencapai 60 kilogram (kg) madu murni dengan potensi keuntungan Rp10 juta hingga Rp20 juta per panen.
Saat memanen madu suasana selalu diwarnai dengan canda tawa empat orang pekerjanya. Sorak kegembiraan terdengar saat madu berhasil dituang, namun tak jarang teriakan kecil muncul ketika salah satu dari mereka tersengat lebah.
“Rasanya pedas, tapi sudah biasa,” tutur salah satu pekerjanya sambil tertawa.
Soal perawatan ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Budiyana menjelaskan lebah mellifera bisa mencari pakan hingga radius dua kilometer dari sarang. Hanya saja setiap hari kondisi koloni harus dicek.
“Kalau ada lebah sakit, biasanya mereka malas terbang. Kita semprotkan obat khusus dan dalam sehari dua hari mereka kembali aktif bekerja,” jelasnya.
Pemilihan lebah mellifera sendiri dikarenakan lebah ini cocok untuk dibudidayakan. Lebah yang berasal dari Eropa ini juga sudah dikenal sebagai penghasil madu terbaik di dunia.
Lebah mellifera memiliki tiga kasta yaitu ratu, pejantan dan pekerja. Ratu bisa memiliki masa produktif efektif selama 1–2 tahun walau sebenarnya ratu bisa hidup hingga 5 tahun sementara pekerja hanya hidup sekitar 60–70 hari.
Pejantan jumlahnya sekitar 10% dari koloni dan perannya hanya mengawini ratu bukan menghasilkan madu.
Namun budidaya lebah tidak selalu manis. Cuaca ekstrem menjadi tantangan tersendiri. Saat musim hujan atau kabut asap lebah enggan keluar dari sarang. Akibatnya madu di dalam sarang akan mereka konsumsi sendiri.
“Kalau sudah cuaca hujan atau ada asap, biasanya saya taruh gula di dalam sarang agar mereka tidak memakan madunya,” ujarnya.
Ciri khas madu Borneo Mellifera adalah kemurniannya. Tidak ada campuran zat kimia, tidak dimasak dan tidak melalui proses tambahan lain yang bisa mengurangi kualitas.
Selain itu sarang lebah yang sudah kosong pun tidak terbuang percuma. Bekas sarang lebah yang sudah rusak dimanfaatkan kembali untuk diolah menjadi lilin berkualitas tinggi.
Kini Borneo Mellifera bukan hanya sekadar penyedia madu asli tetapi juga menjadi contoh keberhasilan budidaya lebah mellifera di Kalteng bahkan di Kalimantan. Dari sekadar pecinta madu kini Budiyana menikmati manisnya hasil kerja keras yang berbuah bisnis beromzet puluhan juta. (*/ala)
Editor : Ayu Oktaviana