Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata

Melihat Gereja Tertua di Sampit: Didirikan Menggunakan Kayu Ulin, Punya Lonceng dari Swiss

Miftahul Ilma • Jumat, 3 April 2026 - 17:13 WIB
Gereja Maranata, yang dikenal sebagai gereja tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).MIFTAHUL ILMA/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Gereja Maranata, yang dikenal sebagai gereja tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).MIFTAHUL ILMA/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 

SAMPIT – Di tengah perkembangan Kota Sampit, berdiri sebuah gereja tua yang menjadi saksi perjalanan panjang Kekristenan di wilayah Mentaya.

Gereja Maranata, yang dikenal sebagai gereja tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menyimpan kisah yang dimulai dari desa kecil hingga berkembang menjadi pusat ibadah umat Kristen saat ini.

Pada momen Hari Raya Paskah 2026 ini, kami akan membahas sejarah dari Gereja Maranata Sampit. Berikut ulasannya

Sejarah itu berawal pada 1924, ketika ajaran Kekristenan pertama kali masuk ke wilayah Mentaya melalui Desa Kandan.

Ajaran tersebut dibawa oleh para perantau dari Kapuas dan dilayani oleh zending yang aktif menyebarkan Injil di masa itu.

Perkembangan pun berlanjut seiring meningkatnya arus pendatang ke Kota Sampit.

Pada masa itu, banyak pekerja dari luar Kalimantan datang untuk mencari penghidupan, sehingga jumlah jemaat Kristen terus bertambah.

Kesadaran untuk memiliki tempat ibadah akhirnya muncul. Pada 1937, jemaat secara swadaya membangun gereja sederhana berbahan kayu.

 Dua tahun kemudian, tepatnya 1939, gereja tersebut diresmikan oleh zending Belanda bernama Tuan Bekker, meski belum memiliki nama.

“Semua dibangun dari kebersamaan jemaat. Materialnya dari kayu lokal, dan dikerjakan secara gotong royong,” ujar Ketua Majelis Resort GKE Sampit, Pdt Mediorapano, Jumat (3/4/2026). 

Seiring pertumbuhan ekonomi dan pesatnya perkembangan Sampit, jumlah jemaat terus meningkat.

Gereja yang semula sederhana tidak lagi mampu menampung seluruh umat yang datang beribadah.

Melihat kondisi tersebut, pada 1980 para pendeta, pengurus, dan jemaat sepakat melakukan renovasi besar.

Pembangunan dilakukan dengan semangat gotong royong dan didukung oleh perusahaan kayu yang saat itu masih aktif, yakni PT Inhutani.

Proses pembangunan selesai pada 1985 dan gereja kemudian diberi nama Maranata, yang berarti Tuhan datang. Peresmian dilakukan oleh Bupati Kotim saat itu, HA Kusnan Daryono.

“Nama Maranata dipilih sebagai pengingat iman jemaat bahwa Tuhan akan datang. Itu menjadi semangat dalam kehidupan beriman,” katanya.

Bangunan dari kayu ulin.MIFTAHUL ILMA/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Bangunan dari kayu ulin.MIFTAHUL ILMA/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 

Gereja ini memiliki ciri khas yang kuat. Di bagian depan berdiri patung Yesus yang menjadi simbol penyambutan bagi setiap jemaat.

Sementara di dalam, dinding gereja dihiasi mural kisah Alkitab yang digunakan sebagai media pembelajaran bagi anak-anak sekolah minggu.

Menariknya, mural tersebut dibuat oleh seorang seniman asal Jawa yang beragama Islam sebagai bentuk sumbangan. Hal ini menjadi simbol nyata toleransi yang tumbuh di tengah masyarakat Sampit.

Selain itu, bangunan gereja yang didominasi kayu ulin dan benuas masih mempertahankan nuansa klasik.

Di dalamnya terdapat berbagai perlengkapan ibadah, bahkan lonceng gereja yang didatangkan langsung dari Swiss pada 1955, yang dulunya digunakan sebagai penanda waktu ibadah.

“Dulu lonceng dibunyikan setiap akhir pekan. Sekarang sudah tidak digunakan lagi karena informasi ibadah disampaikan lewat media,” jelasnya.

Lonceng dari Swiss.MIFTAHUL ILMA/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Lonceng dari Swiss.MIFTAHUL ILMA/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 

Perjalanan gereja tidak berhenti sampai di situ. Pada periode 1976 hingga 1979, pengembangan gereja dipelopori oleh Set Saloh.

 Kemudian dilakukan rehabilitasi kembali pada 1997 hingga 2000 untuk memperkuat bangunan.

Pengembangan juga berlanjut dengan pembentukan gereja parapah pada 2008, yang kemudian mencapai tahap pentahbisan pada 2018.

Hingga kini, Gereja Maranata tetap menjadi pusat kegiatan rohani yang aktif. Ibadah dilaksanakan dalam beberapa sesi karena jumlah jemaat yang terus bertambah, sebagian besar berasal dari pendatang.

Bagi jemaat lama, gereja ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Salah satunya Maria Fransiska yang telah beribadah sejak kecil.

“Setiap masuk ke dalam gereja, aroma kayunya selalu mengingatkan saya pada masa kecil. Di sini kami tumbuh bersama,” ujarnya.

Ia menyebut, kekuatan utama gereja ini bukan hanya sejarahnya, tetapi juga rasa kebersamaan yang terjalin di antara jemaat.

“Di sini kami saling mengenal dan saling peduli. Itu yang membuat gereja ini tetap hidup sampai sekarang,” katanya.

Gereja Maranata kini tidak hanya menjadi simbol iman, tetapi juga cerminan nilai kebersamaan dan toleransi yang terus dijaga di tengah perubahan zaman.(mif)

Editor : Agus Pramono
#hari raya paskah 2026 #gereja maranata sampit #gereja tertua di kalteng #gereja di sampit #gereja dari kayu ulin