Dari dunia wedding organizer menuju jagat digital, dua anak muda asal Palangka Raya, Lauren dan Noka, berhasil mencuri perhatian lewat WeClick, jasa wedding content creator yang kini tengah naik daun di Kota Cantik, Palangka Raya.
FITRI SHAFA KAMILA, Palangka Raya
DI podcast ruang redaksi telah hadir tamu spesial sepasang content creator WeClick yang berdiri sejak Februari 2025. Dalam waktu kurang dari setahun, mereka sudah menjadi pilihan banyak pasangan muda yang ingin mengabadikan momen bahagia secara real-time.
Lauren dan Noka memulai niatnya karena melihat moment pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan pasangan bisa menikmati moment tersebut bukan saja di album namun juga visual yang hidup melalui media sosial.
“Kami ingin momen pernikahan terasa hidup di media sosial, bukan hanya di album,” ujar Lauren membuka kisahnya, Rabu (22/10/2025).
Nama WeClick bukan sekadar permainan kata. Noka menjelaskan kata ‘We’ artinya kita, karena usaha ini bukan milik satu orang.
Sementara ‘Click’ menggambarkan harapan Lauren dan Noka agar setiap pasangan cocok dan klik dengan hasil mereka. Dibentuk dari keresahan kecil saat masih menjadi kru WO, Lauren dan Noka merasa banyak momen berharga yang terlewat.
“Banyak prosesi adat Dayak yang menarik tapi gak terekam di Instagram pribadi klien. Padahal itu bagian penting dari budaya,” ujarnya.
Dari situlah muncul ide untuk membuat dokumentasi instan yang bisa langsung tayang di hari pernikahan. “Kami pengen bikin versi behind the scene dari pernikahan. Sesuatu yang lebih spontan dan jujur,” tambah Noka.
Proyek pertama mereka datang tak terduga. Lauren mengunggah tawaran di akun kedua Instagramnya, menawarkan jasa gratis bagi siapa pun yang mau menikah di bulan itu.
“Tanpa disangka tiba-tiba teman merekomendasikan Zahra dan dia jadi klien pertama kami,” kenangnya sambil tersenyum.
WeClick bekerja berbeda dengan fotografer atau videografer profesional. Jika fotografer menggunakan kamera canggih, WeClick hanya mengandalkan ponsel terutama iPhone.
Proses edit dengan waktu yang cukup singkat dan harus tampil di hari yang sama melalui instagram pengantin memang jadi tantangan, tetapi semua dilalui dengan keseruan.
“Kami edit langsung di tempat. Hasilnya tayang di hari yang sama, lewat Instagram Story pengantin,” jelas Lauren.
Privasi menjadi hal penting bagi mereka. Sudah jelas untuk akses instagram karena menggunakan instagram milik klien WeClick sangat menjaga kerahasian privasi setiap kliennya dengan hati-hati .
“Kami memang minta akses akun Instagram klien, tapi cuma untuk upload story. Kami gak pernah buka DM atau pesan pribadi,” tegas Noka.
Menurut Lauren posisi WCC di lapangan juga perlu etika. Kerjaan tersebut tidak bisa hanya bergerak sendiri tetapi juga tetap memerlukan koordinasi dengan tim lain untuk selaras seperti vendor dan fotografer pernikahan dalam acara.
“Kami selalu komunikasi dulu dengan vendor lain, terutama fotografer utama. Jangan sampai saling menghalangi, tapi tetap dapat momen penting.”
Tantangan utama mereka adalah waktu. Karena konsepnya real time, proses edit dilakukan di sela-sela prosesi. “Kadang sambil akad jalan, kami udah mulai pilih footage dan edit,” ujar Noka sambil tertawa.
Selain soal waktu, koordinasi juga menjadi tantangan tersendiri. Tiap vendor punya gaya kerja berbeda. Tapi karena Lauren dan Noka dulunya anak WO jadi mengerti cara mengatasinya.
Respons dari klien pun positif. Banyak yang merasa terbantu karena tidak perlu repot mengatur dokumentasi media sosial. “Engagement Instagram mereka langsung naik. Banyak yang bilang kontennya lebih estetik dan personal,” ujar Noka.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi mereka adalah saat meliput pernikahan dengan arak-arakan mobil Willys. “Satu keluarga kompak banget. Sepuluh mobil Willys ikut konvoi. Videonya sampai viral di TikTok,” kata Lauren.
Meski terlihat menyenangkan pekerjaan ini cukup melelahkan. Keterbatasan waktu dan upload serta edit dalam waktu singkat belum lagi kegiatan yang sangat padat bagi pernikahan klien bahkan acara bisa seharian dari pagi hingga malam.
“Bayangin aja, dari pagi sampai malam, motret, ngedit, upload, sambil jaga suasana hati juga,” ujar Noka.
Namun, keduanya sepakat, kelelahan itu terbayar oleh senyum klien. Dalam sehari, mereka bisa mengedit puluhan video pendek berdurasi 10–15 detik. “Yang lama itu milih footage-nya. Karena hampir semua bagus,” kata Noka sambil tertawa.
Soal harga, WeClick fleksibel menyesuaikan dengan kebutuhan klien. Biasanya tergantung berapa banyak rangkaian acara. Meski belum membuka cabang mereka berencana menambah tim di masa depan. Menurut mereka tren wedding content creator di Kalimantan Tengah akan terus berkembang.
“Demandnya makin tinggi. Sekarang tinggal gimana kita punya ciri khas dan konsisten,” ucap Lauren.
Bagi mereka setiap pernikahan punya cerita unik. Tidak ada yang sama. Ada klien yang ceria, ada yang kalem. Mereka harus menyesuaikan tone video dan musik. Di balik layar WeClick bukan hanya soal teknis pengambilan gambar. Ini tentang rasa. “Kita harus bisa nangkep suasana, bukan cuma momen,” ujar Lauren menutup obrolan.
Dengan semangat muda dan kreativitas tinggi, WeClick kini menjadi representasi wajah baru industri pernikahan di Palangka Raya. Sebuah kolaborasi antara seni, teknologi, dan cinta. (*/ala)