SAMPIT- Peristiwa Tragedi Sampit yang terjadi pada tahun 2001 silam bukan hanya menyisakan sejarah, tetapi juga menyimpan berbagai cerita mistis yang hidup di tengah masyarakat. Unsur inilah yang kemudian coba diangkat dan menjadi benih lahirnya film horor berjudul Tanah Dayak.
Sutradara Tanah Dayak, Tarmizi Abka, mengatakan tragedi Sampit sengaja dipilih karena di balik peristiwa tersebut tersimpan banyak cerita mistis yang jarang diangkat ke publik.
Film ini, kata dia, tidak menyoroti konflik berdarahnya, melainkan sisi horor spiritual yang mengiringinya.
“Orang tahunya tragedi Sampit itu soal pembunuhan dan kekerasan. Tapi kita tidak ke situ. Kita fokus ke horor mistis di balik peristiwa itu. Kalau masuk ke daerah orang lain kan harus ada tatakrama, ada adat. Itu yang kita angkat. Peristiwa Sampit hanya sebagai latar,” ujarnya saat dibincangi kaltengpos.jawapos.com, Jumat (6/2/2026).
Pria yang telah lebih dari 25 tahun malang melintang di dunia perfilman nasional itu menjelaskan, saat ini film masih berada dalam tahap praproduksi.
Tim produksi telah melakukan riset dan pengumpulan data selama lebih dari tiga bulan, meski ide penggarapan film ini sudah muncul sejak setahun lalu.
“Kita sudah lebih dari tiga bulan ya sampai sekarang. Tapi ide besarnya sudah ada sejak sekitar satu tahun lalu,” bebernya.
Para tokoh adat setempat turut dilibatkan langsung dalam proses riset untuk memastikan nilai budaya tetap terjaga.
Mereka mendukung projek tersebut karena dinilai mengangkat kearifan lokal setempat.
“Mereka awalnya mengira kita mau membangkitkan tragedi Sampit lagi. Tapi setelah dijelaskan alurnya, mereka justru mendukung karena ini mengangkat kearifan lokal Dayak. Orang luar sering mengira Kalimantan itu menyeramkan. Ini yang justru ingin kita ubah, agar tampil lebih humanis,” kata sutradara film Kartu Pos Wini itu.
Proses syuting direncanakan berlangsung pada Maret hingga April mendatang. Saat ini, tim produksi tengah mencari talenta lokal untuk memerankan karakter masyarakat Dayak.
Lokasi pengambilan gambar rencananya akan dilakukan di sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Kotawaringin Barat, Lamandau, dan Kota Sampit.
Aktor, casting dan target penonton
Casting offline digelar di Kota Pangkalan Bun pada Sabtu (7/2/2026). Sebelumnya, casting online dibuka sejak 30 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026 dan diikuti 2.258 pendaftar.
Selain pemeran asli Kalimantan, film ini juga akan melibatkan sejumlah aktor dan aktris ibu kota.
“Kita ada beberapa pemain dari Jakarta, seperti Salsabila Zahra dan Mas Nizar. Ada juga influencer yang promonya cukup kenceng kita libatkan,” ungkapnya.
Untuk jadwal penayangan, Tarmizi belum memastikan waktu rilis resmi. Namun ia menargetkan film ini dapat tayang pada tahun ini, dengan ambisi menembus satu juta penonton.
“Melihat antusiasme masyarakat, minimal target kita bisa tembus satu juta penonton,” tukasnya.
Sosok Tarmizi Abka
Tarmizi Abka merupakan sutradara yang sudah lama berkecimpung di dunia perfilman tanah air.
Dalam perjalanan kariernya, ia telah menyutradarai dan terlibat dalam puluhan film nasional, baik untuk bioskop, televisi, maupun platform OTT.
Beberapa karya layar lebarnya antara lain Kalam-Kalam Langit, Jejak Cinta, dan Kartu Pos Wini, yang ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia.
Salah satu fase penting dalam kariernya adalah 15 tahun berkolaborasi bersama sutradara Hanung Bramantyo, dan terlibat dalam produksi 38 film layar lebar, termasuk judul-judul besar seperti Ayat-Ayat Cinta, Soekarno, Kartini, Sang Pencerah, dan Sultan Agung.
Dari kolaborasi tersebut, lebih dari 5 film masuk nominasi Festival Film Indonesia (FFI) untuk kategori Best Cinematography, mengungguli ratusan film lainnya.
Alur film
Film yang diproduseri oleh Andri Aan dan disutradarai oleh Tarmizi Abka ini mengangkat tragedi sejarah dengan pendekatan budaya dan spiritual, bukan sekadar horor visual semata.
Film ini, kata dia, tidak menyoroti konflik berdarahnya, melainkan sisi horor spiritual yang mengiringinya.
“Orang tahunya tragedi Sampit itu soal pembunuhan dan kekerasan. Tapi kita tidak ke situ. Kita fokus ke horor mistis di balik peristiwa itu. Kalau masuk ke daerah orang lain kan harus ada tatakrama, ada adat. Itu yang kita angkat. Peristiwa Sampit hanya sebagai latar,”ujarnya saat dibincangi kaltengpos.jawapos.com, Jumat (6/2/2026).
Film ini bercerita tentang sejumlah wartawan yang datang ke pedalaman Dayak untuk meliput tragedi Sampit.
Namun, kedatangan mereka tanpa sikap hormat terhadap adat setempat justru menjadi awal petaka. Kamera dibawa, tetapi nilai-nilai lokal diabaikan.
Larangan adat dilanggar, peringatan leluhur dianggap usang, hingga batas antara dunia manusia dan dunia spiritual perlahan terbuka.
Situasi itu memunculkan berbagai peristiwa ganjil dan teror mistis. Film Tanah Dayak tidak hanya menawarkan horor, tetapi juga pesan tentang adat yang dilanggar, tanah yang dilecehkan, serta arwah yang menuntut keseimbangan alam dan kehidupan.(mif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana