Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Warga Bawa Mobil Isi Galon Air Dicek Secara Represif oleh Aparat saat Melintas Pos PT AKPL, Tak Terima dan Akan Lapor Damang Adat

Agus Pramono • Jumat, 23 Januari 2026 | 15:40 WIB
Momen pengecekan aparat terhadap mobil yang melintas di PT AKPL.SCREEN VIDEO
Momen pengecekan aparat terhadap mobil yang melintas di PT AKPL.SCREEN VIDEO

PERLAKUAN tidak menyenangkan dialami satu keluarga dengan menggunakan mobil saat melintas di sebuah pos penjagaan perusahaan PT AKPL, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Rabu (21/1/2026).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB ketika korban Sesilia, bersama suami dan dua anaknya melintas dengan membawa sejumlah galon air.

Video proses pemeriksaan direkam oleh Sesilia. Video itu pun viral di media sosial.

Sesilia menuturkan, saat melintas di pos tersebut, mobil pribadi berjenis minibus yang mereka gunakan tiba-tiba dihentikan dan dikerumuni sejumlah petugas keamanan.

Mobil mereka disebut dicurigai mengangkut tandan buah segar (TBS) sawit karena terlihat membawa muatan berat.

“Kami langsung dikerumuni satpam, lalu kanit itu mengatakan suami saya adalah incaran polisi dan menyampaikannya dengan sikap arogan. Saya minta ditunjukkan, tindak kriminal apa yang dituduhkan kepada suami saya, tapi tidak ada bukti yang ditunjukkan,” ujarnya saat dihubungi kaltengpos.jawapos.com, Jumat (23/1/2026).

Ia mengaku tidak terima dengan tuduhan tersebut karena merasa diperlakukan tidak adil.

Menurutnya, hanya mobil keluarganya yang diperiksa secara detail, termasuk membuka bagasi dan didokumentasikan, sementara kendaraan pribadi lain yang melintas tidak mendapat perlakuan serupa.

Padahal, menurutnya itu bukan kali pertama ia dan keluarganya lewat. Dirinya bahkan mengaku mempunyai lahan pribadi di area perkebunan.

Ia pun sempat merekam kejadian tersebut. Akibat geram, dirinya mempersilahkan aparat untuk membuka bagasi mobil miliknya.

“Kami punya tanah pribadi di area itu. Tapi kenapa hanya mobil kami yang diperiksa seperti itu. Anak-anak saya sampai menangis ketakutan karena situasinya seperti kami ini penjahat,” ungkapnya.

Sesilia juga menyebut bahwa peristiwa serupa bukan kali pertama terjadi. Ia menuturkan, sebelumnya kakaknya juga pernah mengalami kejadian hampir sama saat mengangkut batu belah menggunakan dump truk dari kawasan tersebut.

“Waktu itu kakak saya seolah mau ditangkap. Tapi setelah dilihat muatannya batu belah, mereka bilang salah paham,” katanya.

Melapor ke Damang Adat

Atas kejadian tersebut, Sesilia menyampaikan bahwa pihak keluarga telah melaporkan peristiwa itu kepada kepala adat setempat.

Ia menegaskan tidak keberatan apabila kendaraan pikap atau truk diperiksa saat melintas di pos perusahaan, namun meminta agar pemeriksaan dilakukan secara manusiawi dan tidak dengan cara intimidatif dan represif.

“Kami tidak menolak pemeriksaan, tapi tolong dengan cara yang baik. Jangan bergerombol seolah kami buronan. Di pos perusahaan lain, mobil pribadi cukup menurunkan kaca, tidak sampai dibuka bagasi dan difoto,” katanya.

Menurutnya, ia sudah sering lalu lalang di wilayah itu. Namun, pengalaman tak mengenakkan itu baru baru dialaminya pertama kali.

Usai melayangkan laporan adat, Sesilia kini tinggal menunggu sidang adat digelar.

“Tinggal nunggu panggilan sidang adat aja,” imbuhnya.(ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#represif #PT AKPL #damang #tandan buah segar #petugas keamanan #Laporan #perkebunan #kotawaringin timur #sidang adat