Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata

Mengenal Sudden Death Syndrome, Penyebab Kematian Mendadak yang Mengejutkan

Ayu Oktaviana • Selasa, 23 September 2025 - 15:40 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

KEMATIAN mendadak kerap terjadi tanpa tanda peringatan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga.

Kondisi ini dikenal dengan istilah Sudden Death Syndrome (SDS), yakni kematian mendadak akibat penyebab alami.

Meski terdengar menakutkan, SDS bukanlah diagnosis medis resmi, melainkan istilah umum untuk menggambarkan berbagai kondisi medis yang berujung pada kematian tiba-tiba.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), SDS terjadi bila kematian berlangsung dalam satu jam setelah gejala muncul, atau dalam 24 jam sejak seseorang terakhir terlihat sehat tanpa keluhan berarti.

Banyak orang sering menyamakan SDS dengan sudden cardiac death (SCD) atau henti jantung mendadak.

Padahal, SCD hanyalah salah satu penyebab paling umum dari SDS. Mengutip Medical News Today, sekitar 73 persen kasus kematian mendadak disebabkan masalah kardiovaskular, jauh lebih tinggi dibandingkan faktor lain seperti asma atau perdarahan otak.

Gejala dan Tanda Peringatan
SDS tidak memiliki gejala khusus karena penyebabnya sangat beragam. Pada kasus SCD, hampir setengah penderita tidak menunjukkan gejala apa pun sebelum meninggal.

Namun, tanda yang mungkin muncul meliputi jantung berdebar (palpitasi), pusing, nyeri dada, sesak napas, dan pingsan.

Gejala dari kondisi lain, seperti aneurisma otak, bisa disalahartikan sebagai keluhan ringan seperti sakit kepala hebat atau leher kaku.

Penting untuk memahami bahwa tidak semua kematian mendadak dapat diprediksi. Bahkan setelah autopsi, penyebabnya kadang tidak terdeteksi dengan jelas.

Inilah yang membuat SDS menjadi tantangan besar bagi dunia medis, karena sulit memberikan peringatan atau diagnosis dini.

Penyebab Utama SDS
Penyakit jantung merupakan pemicu utama SDS. Beberapa kondisi yang termasuk di dalamnya antara lain serangan jantung, gangguan irama jantung bawaan (sudden arrhythmia death syndromes/SADS), kejang arteri koroner, hingga peradangan otot jantung atau myocarditis. Penyakit arteri koroner bahkan menyumbang hingga 80 persen kasus SCD.

Selain masalah jantung, SDS juga dapat disebabkan oleh gangguan lain. Epilepsi, asma berat, emboli paru, stroke, aneurisma otak, anafilaksis atau reaksi alergi parah, meningitis, dan krisis hipertensi adalah contoh kondisi non-kardiak yang bisa berujung pada kematian mendadak.

Dalam beberapa kasus, penyebab kematian tetap menjadi misteri meski pemeriksaan sudah dilakukan. Jika terjadi pada orang dewasa, kondisi ini disebut sudden adult death syndrome, sedangkan pada bayi dikenal sebagai sudden infant death syndrome (SIDS).

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Karena SDS memiliki banyak penyebab, faktor risikonya pun beragam. Namun, faktor yang meningkatkan risiko SCD paling sering ditemukan, seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurang berolahraga, obesitas, dan tekanan darah tinggi.

Penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan ginjal juga meningkatkan kemungkinan terjadinya SCD.

Riwayat keluarga juga berperan penting, terutama untuk kondisi jantung bawaan seperti SADS.

Jika salah satu orang tua memiliki gangguan tersebut, setiap anak memiliki kemungkinan 50 persen untuk mewarisinya. Faktor genetik inilah yang membuat pencegahan SDS menjadi lebih rumit.

Selain faktor genetik, pola hidup tidak sehat menjadi pemicu signifikan. Gaya hidup sedentari, pola makan tinggi lemak jenuh, serta kebiasaan mengonsumsi zat adiktif seperti narkotika dapat memperburuk kesehatan jantung dan meningkatkan risiko SDS.

Upaya Pencegahan yang Dapat Dilakukan
Meskipun tidak semua kasus SDS dapat dicegah, pengelolaan penyakit kronis dan perubahan gaya hidup dapat menurunkan risikonya. Menjaga tekanan darah, mengontrol kadar gula, serta menghindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol adalah langkah penting.

Bagi penderita alergi berat, membawa epinefrin (EpiPen) dapat menyelamatkan nyawa saat terjadi reaksi anafilaksis.

Penderita asma juga dianjurkan menyiapkan inhaler darurat untuk mengurangi risiko serangan mendadak yang fatal. (jpg/abw)

Adrien Rabiot dan pelatih AC Milan Massimiliano Allegri.
Adrien Rabiot dan pelatih AC Milan Massimiliano Allegri.
Zlatan Ibrahimovic, mantan striker AC Milan yang kini duduk di jajaran manajemen klub.
Zlatan Ibrahimovic, mantan striker AC Milan yang kini duduk di jajaran manajemen klub.
Editor : Ayu Oktaviana
#gangguan irama jantung #epilepsi #Konsumsi alkohol #Organisasi Kesehatan Dunia #henti jantung #Sudden Death Syndrome #zat adiktif #gaya hidup