PALANGKA RAYA-Penggunaan kacamata saat ini tidak lagi didominasi oleh kelompok usia tertentu. Hampir seluruh kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, kini banyak datang ke optik dengan berbagai keluhan penglihatan. Hal tersebut disampaikan Petugas Optik Fashion, Rifan saat ditemui pada Minggu (8/2/2026).
Rifan mengungkapkan bahwa berdasarkan pengamatan setahun terakhir di Optik Fashion, pengguna kacamata datang dari berbagai rentang usia.
“Kalau sejauh ini dari beberapa customer yang datang, rata-rata itu hampir di semua kalangan. Dari yang anak muda, remaja sampai orang tua memang datangnya dengan keluhan, dan enggak bisa dibilang lebih dominan anak muda atau orang tua saja,” ujarnya.
Keluhan gangguan penglihatan saat ini terbilang seimbang di hampir seluruh usia.
Namun, untuk kasus pada anak-anak, faktor utama yang memengaruhi bukan hanya kondisi mata itu sendiri melainkan kepekaan orang tua dalam mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini.
“Kalau anak-anak itu sebenarnya lebih ke orang tuanya sadar atau enggaknya. Anak-anak itu sering kali merasa penglihatannya biasa saja. Mereka enggak tahu kalau sebenarnya buram,” jelas Rifan.
Ia mengatakan bahwa anak-anak cenderung tidak mampu mengungkapkan keluhan penglihatan karena merasa apa yang dilihatnya sudah normal.
Tanda-tanda gangguan penglihatan pada anak biasanya justru terlihat dari perilaku sehari-hari, seperti sering mengucek mata, sulit menangkap pelajaran, atau kesulitan membaca tulisan di papan tulis saat duduk di belakang kelas.
“Biasanya anak enggak bilang saya buram. Tapi orang tuanya yang melihat anaknya sering ngucek mata atau belajarnya lambat nangkap. Dari situ orang tua bawa periksa dan ternyata sudah ada minus,” katanya.
Rifan menambahkan dalam rentang Januari hingga Februari 2026, pengunjung Optik Fashion didominasi oleh pelanggan dengan keluhan penglihatan umum.
Sementara itu, kunjungan dari anak-anak usia TK dan SD dalam satu bulan terakhir terbilang lebih sedikit, meskipun pada tahun sebelumnya cukup banyak ditemukan.
“Kalau anak-anak SD atau TK dalam satu bulan ini agak jarang. Tapi kalau tahun kemarin itu cukup banyak juga,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa anak usia taman kanak-kanak pun sudah ada yang mengalami gangguan penglihatan dan harus menggunakan kacamata. Namun, kembali lagi, keputusan pemeriksaan sangat bergantung pada kesadaran orang tua.
“Biasanya orang tua yang sudah pakai kacamata duluan itu lebih paham. Mereka tahu kalau dirinya minus, kemungkinan anaknya juga ada. Tapi kalau orang tuanya enggak minus, sering berpikir anaknya juga enggak, jadi jarang diperiksakan,” tuturnya.
Terkait tindak lanjut setelah pemeriksaan, Rifan mengaku tidak semua orang tua langsung membelikan kacamata meskipun anaknya sudah terdeteksi mengalami gangguan penglihatan.
“Ada sih beberapa, enggak semuanya. Bisa dibilang 50-50. Ada yang bilang minusnya masih rendah, ada juga yang terkendala ekonomi,” jelasnya.
Rifan berpendapat, menurutnya anak-anak memiliki risiko peningkatan minus yang lebih cepat karena masih berada dalam masa pertumbuhan.
“Kalau anak-anak itu ukurannya bisa lebih cepat naik dibanding orang dewasa,” katanya.
Dari sisi jenis kelamin, Rifan menyebutkan tidak ada perbedaan signifikan antara pengguna kacamata laki-laki dan perempuan.
Namun, ia memperkirakan sekitar 60 persen pengguna adalah perempuan. “Mungkin karena perempuan lebih sering membaca,” ujarnya.
Mengenai penyebab gangguan penglihatan pada anak, Rifan menjelaskan bahwa faktor genetik masih menjadi penyebab utama, selain faktor aktivitas.
“Yang paling utama itu genetik. Kalau salah satu orang tuanya minus, anak itu sudah punya kemungkinan ada minus juga,” katanya.
Di tempat yang sama, Teman kerja Rifan di Optik menambahkan bahwa gangguan penglihatan tidak hanya disebabkan oleh faktor keturunan.
Aktivitas sehari-hari seperti membaca terlalu dekat, membaca di tempat kurang pencahayaan, hingga riwayat benturan di kepala juga dapat memengaruhi kondisi mata anak.
“Pernah ada anak usia SD bahkan TK dengan minus cukup tinggi. Setelah ditanya, ternyata waktu kecil ada benturan di kepala, jadi ada trauma saraf yang mengganggu penglihatannya,” ungkapnya.
Di era digital saat ini, penggunaan gawai juga menjadi salah satu faktor risiko. Rifan menyebutkan bahwa smartphone memancarkan sinar biru yang dapat berdampak pada kesehatan mata.
“Sekarang hampir semua kalangan enggak lepas dari smartphone. Jadi pengaruhnya ke mata itu besar,” ujarnya.
Selain faktor penyebab, Rifan juga menyoroti kesalahan umum dalam penggunaan kacamata. Salah satunya adalah kebiasaan melepas dan memasang kacamata tidak sesuai anjuran.
“Ada orang pakai kacamata cuma pas kerja, setelah itu dilepas. Itu kurang disarankan,” tegasnya.
Kacamata bukan hanya berfungsi untuk membuat penglihatan menjadi jelas tetapi juga untuk menahan agar kelainan refraksi tidak terus bertambah.
“Kesalahpahaman di masyarakat itu, kacamata dianggap bikin minus nambah. Padahal yang bikin nambah itu bisa karena pemakaian yang salah atau ukuran kacamata yang enggak tepat,” katanya.
Ia juga mengingatkan risiko pembelian kacamata secara daring tanpa pemeriksaan langsung. “Banyak orang beli online, ukurannya enggak pas. Padahal ada minus, silinder, astigmat, presbiopi, itu beda-beda. Kalau ukurannya salah, bisa bikin minus naik terus,” jelasnya.
Efek penggunaan lensa yang tidak sesuai sering kali tidak langsung terasa. “Bisa dua tahun atau bahkan tujuh tahun ke depan. Tiba-tiba dicek, ukurannya naik dua kali lipat,” ujarnya.
Terkait lensa kontak atau softlens, Rifan menjelaskan bahwa fungsinya sama sebagai alat bantu penglihatan. Namun, softlens memiliki keterbatasan, terutama untuk kelainan silinder.
“Softlens itu enggak bisa konsisten seperti kacamata, ada batas waktu pemakaian dan biasanya enggak bisa bantu silinder,” katanya.
Meski begitu, softlens tetap menjadi pilihan untuk kebutuhan tertentu, seperti olahraga atau acara khusus.
“Kalau lari atau badminton, pakai kacamata kan ribet. Jadi softlens biasanya dipakai situasional,” pungkas Rifan.
Dengan meningkatnya penggunaan kacamata di berbagai usia, Rifan menekankan pentingnya pemeriksaan mata secara rutin, terutama pada anak-anak, agar gangguan penglihatan dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini. (afa/ala)
Editor : Ayu Oktaviana