Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik

Lawang Sakepeng, Seni Penjaga Gerbang yang Memikat di Festival Habaring Hurung Kotim 2026

Agus Pramono • Jumat, 9 Januari 2026 - 19:00 WIB
Pertunjukan Lawang Sakepeng di Festival Budaya Habaring Hurung Kotim 2026.MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Pertunjukan Lawang Sakepeng di Festival Budaya Habaring Hurung Kotim 2026.MIFTAH/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

SAMPIT- Di hadapan pintu simbolik yang direntangi benang, gerak demi gerak dilantunkan dengan penuh kehati-hatian.

Bukan sekadar tarian, bukan pula semata atraksi.

Lawang sakepeng adalah kisah lama yang hidup kembali. Tentang penjagaan, tentang batas, dan tentang keyakinan masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah bahwa setiap langkah masuk ke sebuah ruang harus melalui restu adat.

Agus Sanang, Koordinator lomba lawang sakepeng pada Festival Budaya Habaring Hurung Kotim 2026, menyebut seni ini memiliki akar sejarah yang unik.

Gerakannya lahir dari pengamatan alam, tepatnya dari tingkah hewan beruk yang kemudian diolah menjadi rangkaian silat dan seni pertunjukan.

“Lawang sekepeng ini punya histori yang luar biasa. Cikal bakal geraknya itu dari hewan beruk, lalu dikemas menjadi seni yang hidup di masyarakat Dayak Kalimantan Tengah,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).

Lawang sakepeng kerap ditampilkan pada pernikahan atau kegiatan adat lainnya. Fungsinya bukan sekadar hiburan, melainkan prosesi sakral. Lawang atau pintu menjadi simbol penghalang awal bagi tamu yang datang.

“Maknanya, tamu sebelum masuk ke suatu tempat dihalang oleh lawang (pintu, red). Supaya pengaruh-pengaruh negatif dari luar itu bisa terputus, sebagaimana benang yang dipasang di pintu lawang itu sendiri,” katanya.

Setelah prosesi dilalui, diyakini tak ada lagi hal sial yang menyertai rombongan. Nilai historis dan filosofis itulah yang kembali digaungkan lewat lomba lawang sakepeng dalam Festival Budaya Habaring Hurung Kotim 2026.

Tahun ini, antusiasme terlihat jelas. Sebanyak 27 regu ambil bagian, terdiri dari 10 regu putri dan 17 regu putra. Mereka datang sebagai utusan kecamatan se-Kotim, juga dari perguruan silat, sanggar seni, hingga sekolah-sekolah di Sampit dan sekitarnya. Di balik panggung, penilaian dilakukan dengan ketat.

Yang kita nilai itu keragaman gerak, ketangkasan, kemantapan, juga durasi waktu. Sesuai juknis, minimal lima menit dan maksimal tujuh menit. Kostum juga masuk dalam kategori penilaian,” jelasnya.

Setiap detail menjadi cerminan sejauh mana peserta memahami ruh lawang sakepeng.

Soal pelestarian, ia menilai denyut seni ini masih kuat di Kotim. Pembinaan dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari sanggar-sanggar yang dibentuk para senior pecinta budaya, sanggar sekolah dan kecamatan, hingga perguruan pencak silat yang membina secara mandiri.

“Kalau kita lihat sampai 2026 ini, justru ada peningkatan. Pecintanya semakin banyak, semangatnya juga terlihat dari tahun ke tahun,” ungkapnya.

Puncaknya, regu terbaik putra dan putri akan membawa nama Kotim ke panggung yang lebih besar. Mereka dipastikan menjadi wakil daerah pada Festival Budaya Isen Mulang 2026 di Palangka Raya.

“Yang juara satu nanti akan kita bina lagi sesuai juknis provinsi, supaya kesiapan mereka lebih matang,” katanya.

Optimisme itu bukan tanpa dasar. Lawang sakepeng disebut sebagai salah satu cabang unggulan Kotawaringin Timur di tingkat provinsi. Prestasi pun telah membuktikannya.

“Di tahun-tahun sebelumnya kita hampir selalu meraih juara. Bahkan pada 2018, putra dan putrinya sama-sama juara satu tingkat provinsi,” tuturnya.

Di setiap hentakan kaki dan ayunan tangan, lawang sakepeng bukan hanya menjaga pintu, tetapi juga merawat ingatan kolektif. Sebuah seni yang mengajarkan bahwa melangkah ke depan tak pernah lepas dari menghormati yang telah ada sejak lama. (mif/ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#adat dayak #perguruan silat #masyarakat dayak #Pecinta Budaya Nusantara #kalimantan tengah #HUT Kotim 73 #Lawang Sakepeng #atraksi #pencak silat #Festival Budaya Habaring Hurung #seni pertunjukan #kotawaringin timur #Festival Budaya Isen Mulang