KALTENGPOS.JAWAPOS.COM - Kasus bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mengguncang nurani publik.
Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri.
Peristiwa tragis ini bukan sekadar kabar duka, melainkan peringatan keras tentang kemiskinan, kesehatan mental anak, dan lemahnya perlindungan sosial di tingkat akar rumput.
Korban berinisial YBS (10) diduga mengalami tekanan berat akibat kondisi ekonomi keluarga. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta ibunya dibelikan buku tulis dan pensil untuk sekolah. Namun keterbatasan ekonomi membuat permintaan sederhana itu tak dapat dipenuhi.
Ayahnya telah meninggal dunia sebelum ia lahir, sementara sang ibu tinggal terpisah bersama anak-anak lainnya. YBS sehari-hari hidup bersama neneknya yang telah lanjut usia.
Tragedi ini semakin memilukan setelah polisi menemukan surat wasiat tulisan tangan korban, ditulis menggunakan bahasa daerah, berisi pesan agar sang ibu tidak menangis dan merelakan kepergiannya. Surat tersebut menjadi simbol betapa berat beban psikologis yang dipikul seorang anak.
Kasus ini mendapat perhatian serius dari Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Ia menegaskan pentingnya peran aktif kepala desa dan perangkat wilayah dalam memantau warga rentan, terutama mereka yang belum terdata sebagai penerima bantuan sosial.
Menurut Prasetyo, pengawasan aktif dari tingkat desa dan kelurahan sangat krusial agar negara tidak absen dari kehidupan masyarakat paling bawah. Pendataan yang lemah dan minimnya laporan dari daerah disebut sebagai faktor yang harus segera dievaluasi.
“Monitoring dan pelaporan aktif dari kepala desa atau kepala dusun sangat penting, terutama jika ada warga yang belum tercatat sebagai penerima manfaat program pemerintah,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Lebih jauh, kasus ini membuka realitas pahit bahwa anak-anak sering memendam tekanan psikologis tanpa ruang aman untuk bercerita, sementara lingkungan sekitar belum tentu peka terhadap tanda-tanda krisis mental. Di banyak daerah, akses layanan konseling dan kesehatan mental masih sangat terbatas.
Para pengamat menilai, tragedi ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat perhatian pada kesehatan mental anak, mendorong peran aktif sekolah, keluarga, dan komunitas serta memperbaiki kebijakan pendataan dan bantuan sosial di tingkat desa.
Jika dibahas dengan empati dan tanggung jawab, peristiwa ini dapat menjadi pengingat bahwa keselamatan dan kesehatan mental anak adalah tanggung jawab kolektif, bukan semata urusan keluarga korban.
Editor : Ayu Oktaviana