SEORANG pemuda yang terkenal kuat dan giat bekerja mendatangi saudagar kayu untuk meminta pekerjaan. Dia pun siap melakukan kerja apa saja, yang penting bisa menghasilkan.
Gayung bersambut, sang saudagar sedang mencari penebang pohon. Dan akan membayar tinggi untuk setiap pohon yang berhasil ditebang.
“Ini kapak dan di sana lokasi pohon yang bisa kamu tebang,” ucap Saudagar.
Si pemuda begitu bersemangat menerima tawaran tersebut. Ia pun langsung mengambil kapal dan mulai menebang pohon demi pohon. Bahkan di hari pertama dia bekerja tersebut, sebanyak 22 pohon berhasil ditebangnya.
“Luar biasa! Kamu kuat dan semangat sekali. Sehari saja bisa menebang sampai 22 pohon,” ucap saudagar kayu yang kegirangan.
Sang pemuda pun semakin termotivasi. Keesokan harinya dia datang lebih pagi dan dengan semangat penuh langsung mulai menebang pohon. Namun, hari itu dia hanya bisa menebang sekitar 19 pohon saja. Di hari ketiga, dia berjuang lebih keras lagi, namun hanya berhasil menebang sebanyak 13 pohon. Dan hari demi hari jumlah pohon yang berhasil ditebang pun semakin berkurang.
“Sepertinya aku sudah kehilangan kekuatanku,” pikir si pemuda penebang kayu. Sejurus kemudian dia pun berinisiatif menemui saudagar kayu untuk meminta maaf atas kinerjanya yang menurun.
Saat bertemu, saudagar kayu pun tersenyum dan berkata.
“Kapan terakhir kali kamu asah kapak yang kau gunakan untuk menebang pohon itu?” ucapnya.
“Menajamkan? Tidak sempat pak. Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak saya. Saya sangat sibuk menebang pohon dari pagi sampai sore,” jawab sang pemuda.
Terkadang bekerja keras saja tidaklah cukup untuk mencapai kesuksesan. Kita juga harus bekerja dengan cerdas!
Demikian halnya dalam hidup. Sering kali kita lupa, bahwa dunia ini sementara, ada akhirat yang akan kita tuju. Jangan jadi si pemuda penebang kayu! sibuk terus mengejar dunia! Tapi lupa “mengasah kapaknya” dengan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Sibuuuk ngurusin Dunia, Eh tahu-tahu meninggal Dunia! (*)