Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pedagang Bendera di Sampit Hadapi Penjualan yang Makin Seret

M
Penulis: Miftahul Ilma❯
Pedagang bendera di Sampit mengaku sepi pembeli.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Pedagang bendera di Sampit mengaku sepi pembeli.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

Advertisement

SAMPIT – Pedagang musiman perlengkapan kemerdekaan di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), harus menghadapi penurunan permintaan menjelang perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia. 

Sejumlah pedagang mengaku omzet mereka tahun ini merosot hingga lebih dari separuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Padahal, pertengahan Agustus biasanya menjadi waktu tersibuk bagi penjual bendera, umbul-umbul dan berbagai pernak-pernik merah putih. Namun, kondisi lapak di sejumlah ruas jalan Sampit justru belum menunjukkan geliat penjualan yang signifikan.

Advertisement

Anton, pedagang atribut kemerdekaan di kawasan Jalan A Yani dekat Taman Ikon Jelawat, mengatakan daya beli masyarakat tahun ini terasa jauh berbeda. Setelah lebih dari satu dekade menjalani usaha musiman tersebut, ia menilai penjualan pada Agustus kali ini menjadi salah satu yang paling sulit.

“Kalau biasanya mendekati tanggal 17 pembeli mulai ramai, sekarang pergerakannya masih lambat. Selama saya berjualan lebih dari 10 tahun, penurunan seperti tahun ini cukup terasa, bahkan bisa lebih dari separuh,” ujar Anton, Sabtu (15/8/2026).

Ia mengatakan perubahan kebiasaan konsumen ikut memengaruhi kondisi tersebut. Masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan untuk membeli perlengkapan kemerdekaan, terutama melalui platform perdagangan daring.

Advertisement

Menurut Anton, persaingan harga juga membuat pedagang yang mengandalkan penjualan langsung harus bekerja lebih keras. Pembeli dapat membandingkan harga dan jenis barang melalui telepon genggam tanpa perlu mendatangi lapak.

“Sekarang pembeli bisa melihat banyak pilihan dari rumah. Kalau harga di internet dianggap lebih murah, mereka tentu memilih pesan secara online. Pedagang seperti kami akhirnya hanya menunggu pembeli yang memang ingin melihat barang secara langsung,” katanya.

Sepinya pembeli membuat transaksi harian Anton tidak menentu. Pada hari-hari tertentu, barang yang terjual hanya satu atau dua produk.

Kondisi serupa dirasakan Farida, pedagang lainnya. Menurut dia, penjualan sempat bergerak naik pada awal Agustus, tetapi tidak bertahan hingga mendekati hari kemerdekaan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kalteng PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Jejak Haji Djendjeng, Pejuang dari Kotawaringin yang Bantu Gerilya Tjilik Riwut 

Jejak Haji Djendjeng, Pejuang dari Kotawaringin yang Bantu Gerilya Tjilik Riwut 

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 belum serta-merta mengakhiri perjuangan di pedalaman Kalimantan. 

HUT Ke-81 RI, Bupati Pulang Pisau Ajak Masyarakat Rawat Persatuan dan Kesatuan

HUT Ke-81 RI, Bupati Pulang Pisau Ajak Masyarakat Rawat Persatuan dan Kesatuan

Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi ajang untuk mengenang kembali jasa para pahlawan. 

Sentilan Veteran Asal Kotim, Kadar Usman: Dahulu Musuhnya Nyata, Sekarang Musuh dalam Selimut

Sentilan Veteran Asal Kotim, Kadar Usman: Dahulu Musuhnya Nyata, Sekarang Musuh dalam Selimut

Puluhan tahun lalu, Sersan Mayor (Purn) Kadar Usman menghadapi musuh yang dapat dikenali di medan tugas.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer