Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Permainan

R
Penulis: Rohansyah❯
Rohansyah
Rohansyah

Advertisement

 KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Di sebuah pasar malam, seorang anak kecil tersenyum lebar. Dengan uang Rp10.000 dari ayahnya, ia mencoba melempar gelang ke botol. Jika masuk, ia mendapat hadiah. Jika gagal, uangnya hilang.

Di sudut lain, ada permainan memancing ikan plastik berhadiah. Ada mesin capit boneka. Ada roda keberuntungan. Ada permainan menebak angka. Semua tampak biasa. Semua tampak menghibur.

Tak ada yang menyebutnya judi.

Advertisement

Padahal pola yang sedang ditanamkan sama: mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan hadiah yang nilainya lebih besar dengan mengandalkan keberuntungan.

Banyak orang tua tanpa sadar memperkenalkan konsep ini sejak dini. Dimulai dari permainan tradisional yang mempertaruhkan uang receh. Berlanjut ke permainan berhadiah di pasar malam. Kemudian ke pusat hiburan modern yang ada di Mall dan sejenisnya dengan menawarkan tiket, poin, dan hadiah sebagai imbalan permainan.

Tentu tidak semua permainan adalah judi. Banyak permainan yang murni menguji keterampilan.

Advertisement

Namun masalah muncul ketika anak mulai terbiasa dengan sensasi yang lebih berbahaya: berharap mendapat keuntungan besar dari peluang yang kecil.

Otak manusia menyukai kejutan. Ketika menang, tubuh melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa senang. Sensasi inilah yang dicari berulang-ulang. Bukan hadiahnya, tetapi perasaan saat menang.

Lama-kelamaan, pola pikir itu tumbuh. Sedikit modal, berharap untung besar. Sedikit usaha, ingin hasil luar biasa.

Ketika dewasa, lingkungan berubah. Permainan pasar malam berganti menjadi aplikasi di ponsel. Mesin capit berganti slot digital. Tiket hadiah berganti saldo elektronik.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kalteng PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer