
Oleh; Ricky Nazriel
KEMARAU panjang yang menyelimuti Kalimantan Tengah kini menyingkap realitas pahit di Desa Muara Joloi, Kabupaten Murung Raya. Krisis air bersih bukan lagi sekadar ancaman, melainkan krisis nyata yang memaksa warga berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka setiap hari.
Ketergantungan warga terhadap Sungai Barito meningkat tajam setelah sumur-sumur pribadi mereka mengering total.
Meski air sungai tersebut keruh dan tidak layak konsumsi, warga tidak memiliki pilihan lain untuk sekadar mencuci pakaian maupun kebutuhan sanitasi lainnya.
Persoalan menjadi kian pelik ketika warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih dari pemilik slang air yang masih mengalir, seperti di kediaman Bapak Roma dan Bapak Ujer.
Kesenjangan akses air ini menciptakan beban ekonomi baru bagi masyarakat di tengah keterbatasan penghasilan.
Ironisnya, kondisi ini merupakan dampak langsung dari mangkraknya proyek pembangunan bendungan atau DAM di desa tersebut.
Proyek yang seharusnya menjadi solusi permanen bagi kebutuhan air ledeng warga justru kini terbengkalai tanpa kejelasan penyelesaian.
Sebelumnya, warga sangat bergantung pada aliran sungai kecil di hulu kampung yang didistribusikan melalui sistem selang pribadi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




