Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Petani Kotim Menjerit, Panen Raya di Desa Lampuyang Tak Lagi Diserap Bulog

Ayu Oktaviana • Kamis, 25 September 2025 | 13:02 WIB
H Rudianur menyoroti Bulog yang tak mau beli gabah petani di Desa Lampuyang.
H Rudianur menyoroti Bulog yang tak mau beli gabah petani di Desa Lampuyang.

 

SAMPIT – Wakil Ketua II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), H.Rudianur, menerima keluhan dari petani di wilayah selatan yang tengah menghadapi dilema besar. Di saat panen raya melimpah, hasil padi mereka justru tidak lagi diserap Bulog.

Petani di Desa Lampuyang awalnya sempat lega ketika Presiden menginstruksikan Bulog membeli padi dengan harga Rp5.500 per kilogram.

Namun, kebijakan itu hanya berlangsung sebulan. Setelah itu, pembelian dihentikan tanpa penjelasan pasti.

“Petani bingung, hasil panen sekarang luar biasa banyak, tapi Bulog tidak membeli lagi. Informasi yang beredar, gudang penuh. Tapi alasan itu tidak masuk akal, karena Bulog bisa menyewa atau kontrak gudang tambahan,” tegas Rudianur, Rabu (24/9/2025).

Politisi Partai Golkar itu menilai, kondisi ini membuat petani kian terjepit. Sejak Juli lalu, padi yang seharusnya ditampung Bulog terpaksa dijual ke luar daerah.

Tengkulak dari Banjarmasin kembali masuk membeli padi petani Kotim dengan harga lebih rendah.

“Padahal pemerintah sudah menjamin gabah petani dibeli Bulog. Sekarang, yang menikmati keuntungan justru pengusaha luar daerah, sementara petani kita kesulitan modal untuk bertani kembali,” ujarnya.

Rudianur mengingatkan, jika pola ini dibiarkan, kesejahteraan petani semakin sulit tercapai. Ia meminta pemerintah pusat mengevaluasi agar Bulog kembali menjalankan fungsi utamanya menyerap gabah petani.

Selain masalah pemasaran hasil panen, Rudianur juga menyoroti banjir yang kerap merendam lahan pertanian dan pemukiman.

Menurutnya, penyebab utama adalah banyaknya anak sungai dan muara yang dangkal hingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.

“Wilayah itu ibarat gentong yang menampung air. Kalau tidak dibuat sodetan baru atau saluran buatan, air tetap meluap ke dataran rendah. Apalagi sekarang banyak anak sungai tersumbat,” tutupnya.(bah/ram)

Editor : Ayu Oktaviana
#bulog #panen raya #tengkulak #anak sungai #desa lampuyang #Kotawaringin Timur (Kotim) #petani #kesejahteraan petani