KETIKA tudingan deforestasi terus diarahkan ke Indonesia, pemerintah justru menyebut kelapa sawit sebagai kunci masa depan bangsa. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa sawit adalah fondasi Indonesia Emas 2045, bahkan menyebutnya sebagai “jembatan perdamaian dan kemanusiaan” dalam hubungan internasional.
Bantah 700 juta Hektare Deforestasi di Dunia Akibat Kelapa Sawit
Minyak sawit seringkali dituduh sebagai alasan dibalik terjadinya deforestasi di dunia. Hal ini disampaikan langsung oleh Musdhalifah Machmud selaku Srikandi sawit asal Makassar atau Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).
Bahkan, dia mengaku pernah mendengar hal ini pada konferensi dalam rangka REDD+ (Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation) di Brussels. Saat itu terdengar ungkapan yang mengklaim bahwa 700 juta hektare deforestasi di dunia didorong oleh kelapa sawit.
“Itu narasi yang saya pernah dengar, dan itu saya dengar sendiri pada saat konferensi yang ada di Brussels. Waktu itu kami diundang untuk menjadi pembicara. Di situ saya dengar, kita komplain dong, 700 juta hektare deforestasi terjadi di di dunia. Kita (lahan sawit) cuma punya 30 juta hektare maksimum, kelapa sawit di dunia,” perengahan Nocember lalu.
Dia pun mempertanyakan di mana sisa 670 hektare lahan sawit tersebut berada. Musdhalifah menegaskan bahwa narasi seperti itu harus diluruskan.
Bahkan, dunia perlu diperlihatkan bahwa negara-negara produsen kelapa sawit justru memiliki kawasan hutan yang luas.
Indonesia, misalnya, masih memiliki 63 persen kawasan hutan, Malaysia 62 persen, Thailand 30 persen, Kolombia 52 persen, Nigeria 23 persen, Papua Nugini 89 persen, Kongo 69 persen, bahkan Ghana masih memiliki 68 persen kawasan hutan.
“Komoditas lain yang mereka anggap lebih ramah lingkungan, tapi mereka tidak punya hutan. Apakah itu yang kita anggap komoditas yang ramah lingkungan?,” tukasnya.
Dia menekankan bahwa sejatinya negara-negara produsen minyak sawit tetap dapat mempertahankan kawasan hutan yang ada.
Sebab, masyarakat di sekitarnya memiliki penghidupan yang cukup dan merasa terpenuhi oleh komoditas yang mereka tanam, baik sawit, kakao, maupun kopi.
“Dengan punya ekonomi, mereka sudah puas, mereka bisa akses pendidikan, akses sosial, akses infrastruktur dan lain-lain, karena ada ekonomi yang mereka miliki. Mereka punya kelapa sawit, mereka bisa jual infrastruktur terbangun, mereka bisa akses ke masjid, ke gereja, ke pendidikan, karena mereka punya ekonomi. Jadi ini, narasi ini perlu kita bangun,” tegasnya.
Sawit Motor Transformasi Hijau Nasional
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa sektor kelapa sawit akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Rachmat mengatakan bahwa sawit bukan sekadar komoditas karena perannya semakin luas dalam perekonomian nasional dan hubungan global. Ia menilai bahwa sawit telah berkembang menjadi fondasi penting dalam diplomasi ekonomi dan kerja sama antarnegara.
“Kelapa sawit bukan hanya komoditas. Sawit adalah jembatan persahabatan, perdamaian, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, dunia sedang menghadapi ketidakpastian global yang semakin besar seiring tekanan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan serta energi.
Di tengah tantangan tersebut, Indonesia memilih menempatkan sawit sebagai bagian dari solusi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat internasional.
“Kelapa sawit berkontribusi besar bagi ketahanan pangan dunia, energi terbarukan, dan kebutuhan sehari-hari miliaran orang,” kata Rachmat.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan Indonesia tidak cukup diukur dari tingginya produksi sawit semata, tetapi dari kemampuan mengelola industri ini secara bertanggung jawab dan inklusif.
Prinsip keberlanjutan yang selaras dengan tujuan SDGs menjadi kompas yang harus dijaga agar pertumbuhan tidak mengorbankan generasi mendatang.
Indonesia, menurut Rachmat, berkomitmen memastikan bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan alam.
Ia menyebut bahwa sawit telah menjadi motor pengembangan pedesaan dan penyedia lapangan kerja besar yang menopang sektor industri hilir seperti biofuel dan oleokimia.
“Kelapa sawit adalah contoh transformasi berkelanjutan. Sawit berkontribusi langsung pada SDGs dengan membuka lapangan kerja hijau, mengurangi kemiskinan, dan mendukung peralihan dari energi fosil,” ujarnya.(jpc)
Editor : Ayu Oktaviana