PALANGKA RAYA-Provinsi Kalimantan Tengah masuk dalam 13 provinsi yang ditetapkan pemerintah pusat sebagai lokasi pengembangan klaster peternakan ayam nasional.
Namun, hingga saat ini Kalteng masih belum swasembada produksi telur dan daging ayam, sehingga pasokan masih bergantung dari luar daerah, khususnya Pulau Jawa.
Direktur Pakan Kementerian Pertanian, Dr Ir Tri Melasari, menyebut berdasarkan peta produksi nasional, sentra utama telur dan daging ayam ras masih didominasi provinsi-provinsi di Jawa dan Sumatera.
“Kalau kita lihat peta sebaran, produksi terbesar masih di Jawa dan Sumatera. Untuk Kalimantan, produksi terbesar ada di Kalimantan Selatan. Kalteng sendiri belum swasembada, masih mendatangkan dari Jawa,” ujar Tri Melasari, Selasa (16/12/2025).
Secara data nasional, kontribusi produksi telur dan daging ayam dari seluruh wilayah Kalimantan hanya sekitar 3,8 persen.
"Angka ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan wilayah Kalimantan Tengah terhadap pasokan luar daerah,"ujarnya.
Pemerintah pusat saat ini menyiapkan pengembangan klaster ayam tahap awal di 13 provinsi, yakni Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Papua Selatan, dan Jawa Timur.
Dari 13 provinsi tersebut, akan dipilih daerah yang paling siap secara ekosistem untuk didorong sebagai percontohan nasional, bahkan direncanakan menjadi lokasi kunjungan Presiden.
“Yang dipilih nanti provinsi yang benar-benar siap. Kegiatannya siap, pelaksananya siap, pembiayaannya siap, dan terintegrasi,” jelasnya.
Tri Melasari menegaskan, kunci keberhasilan klaster ayam bukan hanya pada pembangunan kandang atau industri pakan, tetapi pada ekosistem yang berjalan utuh. Mulai dari ketersediaan bahan baku, peternak, hingga industri pendukung.
“Kalau mau ada pabrik pakan, bahan bakunya harus ada dari lokal. Salah satunya jagung. Artinya ekosistem pertanian jagung harus tumbuh. Peternaknya juga harus tumbuh. Industri pakan, perbibitan, semuanya harus jalan bersama,” tegasnya.
Tanpa ekosistem yang terbangun, menurut dia, pengembangan klaster hanya akan menjadi proyek sesaat dan tidak mampu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. (*rif/ram)
Editor : Agus Pramono