PALANGKA RAYA – Kinerja makro pembangunan Kalimantan Tengah sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng mencatat pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, angka kemiskinan menurun, tingkat pengangguran terkendali, inflasi stabil, meski sektor pertanian tanaman pangan mengalami tekanan produksi.
Kepala BPS Kalimantan Tengah Agnes Widiastuti menyampaikan, pada Triwulan III 2025, perekonomian Kalimantan Tengah tumbuh 1,60 persen secara triwulanan (q-to-q) dan 5,36 persen secara tahunan (y-on-y). Secara kumulatif dari Triwulan III 2024 hingga Triwulan III 2025, ekonomi Kalteng tumbuh 4,80 persen.
“Perekonomian Kalimantan Tengah terus menunjukkan kinerja yang positif. Pertumbuhan tetap terjaga baik secara triwulanan maupun tahunan,” ujar Agnes, Kamis (8/1/2026).
Dari sisi lapangan usaha, lima sektor utama masih menjadi penopang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yakni pertanian, industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan, dengan total kontribusi mencapai 70,55 persen.
Sementara itu, sektor dengan pertumbuhan tertinggi tercatat pada jasa perusahaan sebesar 17,85 persen, disusul transportasi dan pergudangan 15,74 persen, serta industri pengolahan 13,33 persen.
Dari sisi pengeluaran, ekspor menjadi kontributor terbesar PDRB dengan porsi 56,59 persen, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 37,45 persen dan konsumsi rumah tangga 36,56 persen. Pertumbuhan tertinggi juga terjadi pada komponen ekspor yang tumbuh 22,23 persen, sedangkan konsumsi rumah tangga tumbuh 2,58 persen.
BPS juga mencatat angka kemiskinan Kalteng Maret 2025 sebesar 5,19 persen atau sekitar 147,8 ribu jiwa. Angka ini turun 0,07 persen poin dibanding September 2024 atau berkurang sekitar 1,4 ribu penduduk miskin.
Garis kemiskinan Kalteng pada Maret 2025 berada di angka Rp654.066 per kapita per bulan, naik 1,96 persen dibandingkan September 2024. Komponen konsumsi makanan masih mendominasi pembentuk garis kemiskinan dengan porsi 77 persen.
“Secara historis, tingkat kemiskinan Kalimantan Tengah relatif stabil di kisaran 5 persen sejak 2017,” jelas Agnes.
Untuk ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2025 tercatat 3,97 persen atau 58,61 ribu orang, turun 0,04 persen poin dibanding Agustus 2024. TPT perkotaan sebesar 4,17 persen, sementara perdesaan 3,79 persen.
Inflasi Terkendali, Produksi Padi Turun
Dari sisi harga, Kalimantan Tengah pada November 2025 mengalami inflasi tahunan 2,56 persen, masih dalam sasaran inflasi nasional 2,5 ± 1 persen. Andil inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,18 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,68 persen, terutama dari komoditas emas perhiasan.
Namun demikian, sektor pertanian tanaman pangan menghadapi tekanan. Luas panen padi 2025 diperkirakan 96,94 ribu hektare, turun 12,68 persen dibanding 2024. Produksi padi juga turun menjadi 329,39 ribu ton GKG, atau berkurang 10,04 persen.
Sebaliknya, luas panen jagung pipilan meningkat 11,21 persen menjadi 9,51 ribu hektare, meski produksi jagung justru turun 7,33 persen menjadi 41,37 ribu ton.
Agnes menegaskan, penurunan produksi padi tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan karena struktur ekonomi Kalteng masih didominasi subkategori perkebunan, yang kontribusinya jauh lebih besar dibanding tanaman pangan.
“Data statistik yang akurat menjadi dasar penting perencanaan pembangunan yang tepat sasaran,” pungkasnya. (*rif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana