PALANGKA RAYA – Aktivitas ekonomi sektor perikanan dan kelautan di Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan pergerakan yang sangat masif.
Data terbaru dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalteng mencatat, lalu lintas komoditas perikanan domestik, baik masuk maupun keluar daerah, mencapai miliaran ekor dan memiliki nilai ekonomi strategis.
Kepala BKHIT Kalteng, Sondang Sitorus, mengatakan bahwa lalu lintas domestik masuk (Domas) masih didominasi oleh benih ikan dalam jumlah sangat besar.
Berdasarkan data statistik karantina, Benih Udang Vaname menjadi komoditas terbanyak dengan volume mencapai 3,04 miliar ekor. Angka tersebut disusul Benih Bandeng sebanyak 1,47 miliar ekor.
Selain itu, Benih Patin dan Patin Hias masing-masing tercatat mencapai 436 juta dan 435 juta ekor. Sondang menilai data ini bukan sekadar angka lalu lintas, melainkan cerminan potensi dan arah pembangunan ekonomi daerah.
“Karantina itu disebut sebagai tools ekonomi. Dari data ini kita bisa menganalisis, misalnya kenapa benih atau telur lebih banyak masuk. Kenapa tidak kita kembangkan sendiri di daerah? Data seperti itu berasal dari karantina,” jelas Sondang saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (8/1/2026).
Tingginya volume lalu lintas tersebut, lanjut Sondang, menuntut pengawasan ketat sesuai ketentuan karantina. Ia menegaskan bahwa setiap pengiriman wajib melalui tindakan karantina tanpa terkecuali.
“Tindakan karantina itu ada delapan, mulai dari pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan, sampai pembebasan. Jadi tidak ada istilah pengiriman yang tidak melalui karantina,” tegasnya.
Udang Mantis dan Lobster Dominasi Domestik Keluar
Sementara itu, untuk kategori domestik keluar (Dokel), komoditas unggulan Kalteng masih didominasi oleh hasil tangkapan laut bernilai tinggi. Udang Mantis tercatat sebagai komoditas dengan volume pengiriman terbesar, yakni mencapai 4,19 juta ekor. Disusul Benih Bening Lobster sebanyak 2,5 juta ekor dan Lobster sebanyak 2,05 juta ekor.
Meski demikian, Sondang mengakui masih terdapat kendala logistik, terutama terkait keterbatasan jadwal penerbangan yang memengaruhi kesegaran komoditas perikanan.
“Komoditas perikanan ini waktunya sangat terbatas karena oksigen. Dulu penerbangan pagi memudahkan pengiriman. Sekarang kalau harus menunggu siang dan bermalam, kualitasnya bisa menurun,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar pelaku usaha perikanan di Kalteng masih berperan sebagai pemasok.
“Untuk sementara kita masih sebagai supplier. Pasar besarnya masih dikuasai Jakarta, dan untuk menembus itu tidak mudah karena persoalan jaringan dan koneksi,” tambahnya.
Status Penyakit Masih Terkendali
Terkait pengawasan kesehatan, Sondang memastikan bahwa komoditas ikan di Kalimantan Tengah saat ini masih dalam kondisi aman. Namun untuk komoditas hewan, Kalteng masih berada pada kategori zona kuning.
“Kalau ikan masih clear. Tapi untuk sapi, kita berada di zona kuning PMK. Artinya masih aman, tapi tetap harus dijaga agar penyakit dari zona merah tidak masuk,” tegasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar selalu melaporkan setiap pengiriman komoditas, tanpa memandang jumlah.
“Jangan lihat sedikit atau banyaknya. Setengah kilo pun kalau sudah terjangkit penyakit, dampaknya bisa besar. Jadi lapor ke karantina,” pungkas Sondang.(rif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana