PALANGKA RAYA – Potensi ekspor ikan hidup dari Kalimantan Tengah (Kalteng) menghadapi tantangan besar akibat jadwal penerbangan yang tidak mendukung.
Saat ini, pengusaha ikan hidup harus berkejaran dengan waktu karena keterbatasan oksigen pada komoditas mereka.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalteng, Sondang Sitorus, mengungkapkan bahwa dulu jadwal penerbangan pagi sangat membantu kelancaran ekspor. Namun kini, kondisi tersebut berubah.
"Dulu sempat waktu Garuda itu masih ada pagi, mereka kirim dari sini nanti transit di Jakarta langsung terbang. Sekarang kalau siangnya baru terbang, tidak sempat lagi. Bisa saja bermalam di sana. Namanya tungguan, jadi enggak fresh lagi," kata Sondang, Kamis (8/1/2026).
Kondisi ini membuat pelaku usaha di Kalteng sulit bersaing secara mandiri dan akhirnya hanya menjadi penyuplai bagi eksportir besar di Jakarta.
"Kita hanya untuk sementara ini masih supplier. Karena yang punya pasar itu orang Jakarta. Kita mau nembus itu pun susah, karena pertarungan koneksi. Jadi harga saya 5.000, pasti Jakarta akan menjualnya di atas itu," tambahnya.
Kesaksian pengusaha ikan
Giyono salah satu pelaku ekspor perikanan yang pernah diwawancarai Kalteng Pos mengutarakan, mengalami ganjalan itu.
Dia harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk bisa mengirimkan ikan betutunya ke Malaysia.
Dia terpaksa harus memakai jasa pihak ketiga. Mantan kuli bangunan itu memberikan contoh. Saat ini, dirinya mengirim ikan dengan pesawat dari perusahaan A dari Palangka Raya ke Jakarta.
Lalu, saat terbang ke Malaysia, tidak ada penerbangan dari perusahaan yang sama. Dengan begitu, dirinya harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mengurus lagi dokumen-dokumen untuk terbang dengan pesawat dari perusahaan lain.
“Andaikan langsung dari Palangka Raya ke Malaysia, diterbangkan perusahaan penerbangan yang sama, pasti lebih murah biayanya. Ini Kita harus mengeluarkan lebih 50 persen dari biaya normal,”keluhnya.
Giyono wajar mempermasalahkan hal itu. Karena ikan hidup yang dikirim tak bisa berlama-lama dalam kemasan.
“Normalnya 16-18 jam bisa sampai di tujuan. Kalau sampai 30 jam, bisa mati ikan-ikan itu,”ungkapnya. (*rif/ram)
Editor : Ayu Oktaviana