SAMPIT – Deretan kios pakaian di lantai dua Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) kini tak seramai beberapa tahun lalu.
Perubahan pola belanja masyarakat yang beralih ke platform daring membuat aktivitas jual beli di pasar konvensional tersebut kian lesu.
Sejumlah toko bahkan memilih menutup usahanya karena omzet terus menurun.
Padahal PPM menjadi sempat menjadi primadona masyarakat. Terlebih lagi saat momentum hari besar seperti Ramadan dan Idulfitri.
Fenomena ini menjadi perhatian pemerintah daerah. Staf Ahli Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Rafiq Riswandi, menilai pergeseran sistem perdagangan dari konvensional ke digital adalah hal yang harus dihadapi para pedagang. Mereka didorong bisa beradaptasi dengan digitalisasi.
“Sekarang sudah terjadi perubahan zaman. Tidak lagi kita melakukan transaksi perdagangan melalui sistem konvensional, tapi sekarang sudah sistem digital. Perubahan zaman seperti ini harus bisa diikuti,” ujarnya, Rabu (17/2/2026).
Meski demikian, ia menekankan bahwa pasar konvensional tetap memiliki keunggulan tersendiri. Interaksi langsung antara penjual dan pembeli, kesempatan memilih barang secara detail, hingga proses tawar-menawar menjadi nilai tambah yang tidak sepenuhnya dimiliki pasar online.
“Di pasar konvensional pedagang dan pembeli bisa bertransaksi langsung, memilih barang secara langsung, hingga melakukan tawar menawar. Termasuk menyesuaikan ukuran produk sesuai keperluan,” jelasnya.
Sebagai langkah adaptasi, Pemkab Kotim berencana menjembatani pedagang dengan Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmperindag) Kotim. Salah satu gagasan yang tengah dikomunikasikan adalah pemanfaatan ruang kosong di PPM sebagai studio promosi daring.
Baca Juga: Jelang Ramadan 2026, Satgas Sidak PPM Sampit: Cabai Keriting Tembus Rp60 Ribu per Kilogram
“Nanti kita komunikasikan antara pedagang dengan Diskopukmperindag, untuk memanfaatkan ruang kosong di PPM sebagai studio. Jadi di studio itu pedagang bisa mempromosikan produknya secara daring. Artinya dua sisi, berjualan secara konvensional dan online,” paparnya.
Dukungan terhadap digitalisasi juga datang dari internal pengelola pasar. Wakil Ketua Pengurus PPM Sampit, Wisnu, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyewa influencer untuk membantu memasarkan produk pedagang melalui media sosial.
“Kami kemarin pengurus pasar mengadakan rapat untuk menyewa influencer, untuk mempromosikan dagangan. Dananya bersumber dari patungan para pedagang,” katanya.
Namun, ia mengakui kendala terbesar terletak pada sumber daya manusia. Banyak pedagang belum memahami teknik pemasaran digital secara mandiri.
“Kalau masing-masing pedagang yang promosikan produknya secara online kendalanya SDM, banyak yang tidak paham. Makanya sementara kita menyewa influencer dulu,” ujar Wisnu.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan pelatihan dan pendampingan agar pedagang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dengan kombinasi penjualan langsung dan daring, diharapkan geliat ekonomi di PPM Sampit bisa kembali bergairah. (mif)
Editor : Ayu Oktaviana