SAMPIT – Situasi perang Iran dan Amerika Serikat (AS) berdampak pada sektor ekonomi. Salah satu yang terdampak adalah harga plastik yang naik signifikan.
Di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), harga plastik melonjak drastis. Kenaikannya bervariasi, mulai dari 25 persen hingga 150 persen. Kondisi ini membuat omzet para pedagang menurun.
Lonjakan harga ini juga membuat pedagang di sejumlah pasar tradisional mulai mengubah strategi penjualan. Mereka cenderung membatasi stok untuk menghindari kerugian akibat harga yang terus berubah.
Para pelaku usaha kecil juga mulai merasakan dampaknya. Kenaikan harga plastik sebagai bahan kemasan membuat biaya produksi meningkat, sementara harga jual sulit dinaikkan karena mempertimbangkan daya beli konsumen.
Situasi ini memaksa pelaku usaha memutar strategi, mulai dari menekan keuntungan hingga mengurangi produksi agar tetap bertahan di tengah tekanan harga yang belum stabil.
Aril, salah satu pedagang plastik di Sampit, mengatakan kenaikan ini sudah terjadi bertahap sejak pertengahan Ramadan silam. Namun, hingga saat ini harga terus mengalami lonjakan tajam.
“Kenaikannya dari pertengahan puasa tadi. Naik bertahap sampai sekarang naiknya tinggi. Saya bilang ini bukan harga naik, tetapi harga berganti,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga ini dipicu konflik yang tengah berlangsung. Tersendatnya pasokan minyak mentah berdampak pada produksi biji plastik yang ikut menurun.
“Biji plastik ini kan semacam ampas dari minyak itu yang diolah dengan bahan kimia. Kalau minyaknya sulit, otomatis sulit juga biji plastiknya,” bebernya.
Pria yang telah 25 tahun berdagang plastik itu mengaku baru kali ini merasakan lonjakan harga setinggi ini. Ia menilai, jika konflik terus berlanjut, harga berpotensi kembali naik.
“Yang paling naik itu plastik bening. Ada yang mulanya Rp10 ribu, sekarang jadi Rp17 ribu,” katanya.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah jenis plastik lainnya. Plastik kemasan es yang sebelumnya dijual sekitar Rp34 ribu per pack kini naik menjadi Rp55 ribu. Sementara plastik kantong yang semula Rp15 ribu kini mencapai Rp30 ribu.
Selain itu, plastik cup minuman yang sebelumnya berada di kisaran Rp320 ribu per dus kini melonjak menjadi Rp465 ribu.
Kenaikan ini membuat pedagang semakin terbebani karena modal yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Sementara itu, Jamal, salah satu pembeli, mengaku kini mengurangi jumlah pembelian. Ia khawatir kenaikan harga akan berdampak pada usahanya jika tetap membeli dalam jumlah besar.
“Biasanya saya hanya beli satu ikat isi lima pack, sekarang belinya hanya satu pack saja,” imbuhnya. (mif)
Editor : Agus Pramono