SAMPIT – Tekanan biaya mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, menyusul lonjakan harga bahan baku plastik dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan bahkan disebut mencapai kisaran 50 hingga 100 persen.
Kondisi ini tak lepas dari situasi global yang berimbas pada distribusi dan harga bahan baku. Dampaknya langsung terasa pada biaya produksi pelaku usaha, terutama yang bergantung pada kemasan plastik untuk penjualan.
Sejumlah pelaku UMKM kini dihadapkan pada pilihan sulit. Mereka harus menentukan langkah antara menaikkan harga jual atau tetap bertahan dengan risiko margin keuntungan yang terus tergerus.
Salah satu yang merasakan dampak tersebut adalah usaha kuliner Cafe Along yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Sampit.
Owner Along Grup, Muhammad Asary, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh kebutuhan operasional, khususnya bahan kemasan.
“Untuk gelas cup, plastik take away, itu naiknya drastis, bisa sampai 40 persen. Plastik ini yang paling terasa kenaikannya,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan paling mencolok terjadi pada plastik kemasan. Jika sebelumnya harga berada di kisaran Rp10.000, kini sudah menyentuh sekitar Rp14.000.
“Cup minuman juga ikut naik, per biji naik sekitar Rp500. Jadi memang terasa sekali karena naiknya hampir bersamaan,” katanya.
Baca Juga: Imbas Perang Iran Vs Israel, Harga Plastik di Kota Sampit Mengalami Kenaikan Sampai 150 Persen
Tak hanya kemasan, bahan lain seperti susu kental manis, susu UHT hingga telur juga mengalami kenaikan dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kenaikan tersebut berdampak langsung terhadap operasional usaha. Meski jumlah pelanggan tidak mengalami penurunan signifikan, beban pengeluaran meningkat tajam.
“Pengunjung masih ramai, tapi biaya operasional jadi membengkak. Kalau harga tidak dinaikkan, justru omzet bisa turun,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas produk, pihaknya akhirnya memilih menyesuaikan harga jual. Menurutnya, langkah ini lebih aman dibanding menurunkan kualitas bahan baku.
“Kami lebih pilih naikkan harga daripada menurunkan kualitas. Kalau kualitas turun, rasa juga ikut berubah dan pelanggan bisa kecewa,” tegasnya.
Di sisi konsumen, penyesuaian harga tersebut masih bisa diterima. Salah seorang pelanggan, Abu Talib, mengaku tetap membeli meski harga mulai naik.
“Walaupun naik, saya tetap beli karena memang suka kualitasnya,” ujarnya.
Ia berharap kondisi global segera membaik agar harga bahan baku kembali stabil dan tidak terus membebani pelaku usaha maupun konsumen.
“Harapannya konflik cepat selesai supaya harga bisa normal lagi,” imbuhnya. (mif)
Editor : Agus Pramono