Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Curhatan Pedagang di Palangka Raya Ketika Harga Plastik Terus Melejit, Banyak Pelanggan Mengeluh

Novia • Jumat, 10 April 2026 | 11:40 WIB
Toko penjual plastik di Palangka Raya. Harga plastik mengalami kenaikan. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Toko penjual plastik di Palangka Raya. Harga plastik mengalami kenaikan. ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

 

PALANGKA RAYA-Lonjakan harga plastik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir hingga menembus lebih dari 100 persen merupakan konsekuensi yang tidak terhindarkan dari ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku. 

Kondisi ini membuat sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) terjepit. Biaya produksi meningkat, sementara ruang untuk menaikkan harga jual sangat terbatas.

Baca Juga: Harga Plastik Naik, Pedagang Sayur PPM: Tak Berdampak ke Penjualan

Toko Plastik dan Bahan Kue Azwan, M Noor mengatakan, kenaikan mulai terasa sejak pertengahan puasa dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda stabil.

“Naiknya pelan-pelan, tapi terus. Tidak langsung tinggi sekali, tapi bertahap. Dari agen sudah naik duluan,” ujar pemilik toko di Jalan Kecipir Palangka Raya pada, Minggu (5/4/2026). 
 
Menurutnya, hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan tanpa terkecuali. Plastik es ukuran setengah kilogram yang sebelumnya dijual Rp7 ribu per bungkus, kini menjadi Rp10 ribu atau naik sekitar 30 persen. Sementara plastik kresek ukuran 15 yang semula Rp9.500 per bungkus kini menembus Rp13.500.

“Yang paling terasa memang kresek. Semua item naik, bahkan yang jarang laku pun ikut naik. Selama enam tahun saya jualan, baru kali ini hampir semua barang naik bersamaan,” katanya.

Oleh sebab itu, ia menilai dampak paling terasa dirasakan pelaku UMKM di Palangka raya terutama usaha kuliner dan minuman yang bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.

Baca Juga: Dilema Pelaku UMKM Sampit Tatkala Harga Plastik Naik, Serba Salah Mau Naikkan Harga atau Tidak

“Banyak pelanggan kami yang jualan makanan mengeluh. Mereka tidak bisa langsung menaikkan harga makanan, karena takut pembeli berkurang. Akhirnya ada yang mengecilkan ukuran kemasan atau mengurangi isi,” kata M. Noor.

Meski demikian, ia mengaku omzet toko relatif stabil. Hanya saja, kebutuhan modal bertambah karena harga kulakan naik, sementara margin keuntungan tidak banyak berubah.

“Yang penting barang masih ada. Kalau sampai langka, itu yang lebih susah. Penjual bingung jual apa, pembeli juga bingung mau pakai apa,” ujarnya.

Kondisi serupa disampaikan salah satu pemilik toko plastik di Jalan Rajawali Palangka Raya yang enggan disebutkan namanya. Ia mengungkapkan, plastik kresek jenis tertentu yang sebelumnya Rp8 ribu per bungkus kini menjadi Rp13.500.

Baca Juga: Imbas Perang Iran Vs Israel, Harga Plastik di Kota Sampit Mengalami Kenaikan Sampai 150 Persen

“Untuk plastik hampir semuanya naik. Bahkan ada barang yang kosong karena pabrik menghentikan produksi atau stop pemesanan (PO). Kami sekarang menjual stok yang ada saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain kenaikan harga, kelangkaan mulai terasa pada beberapa jenis kemasan, seperti thinwall ukuran 300 mililiter yang saat ini sulit diperoleh di pasaran.

Dikatakannya, kenaikan harga plastik di saat ini tidak lepas dari ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor. Pasalnya, plastik merupakan turunan minyak bumi, yang sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri, terutama kawasan Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut berdampak pada pasokan dan distribusi bahan baku. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia turut mendorong biaya produksi plastik secara global.

Akibatnya, harga di tingkat pedagang di Kalteng melonjak signifikan. Sejumlah item mengalami kenaikan rata-rata 30–60 persen, bahkan pada beberapa jenis cup dan kemasan tertentu dilaporkan mendekati dua kali lipat dibanding harga sebelum Ramadan.

Disisi lain, Nurida Pratiwi, pemilik toko plastik dan bahan kue di Jalan RTA Milono, Palangka Raya, juga merasakan tekanan yang sama. Ia menyebut kenaikan harga terjadi hampir di seluruh kategori produk. 

“Sejak pertengahan Ramadan harga mulai bergerak naik dan sampai sekarang belum stabil. Distributor menyampaikan stok bahan baku terbatas. Dampaknya langsung ke harga jual kami,” katanya.

Nurida menilai situasi ini membuat pedagang berada di posisi sulit. Di satu sisi harus mengikuti harga pasar, di sisi lain menghadapi keluhan pelanggan.

“Kami berharap pemerintah bisa membantu menstabilkan pasokan dan harga, atau setidaknya memastikan distribusi lancar ke daerah kita. Kalau bahan baku terus sulit dan harga naik, pedagang-pedagang yang paling terdampak,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, jika lonjakan terus berlanjut, bukan hanya pedagang plastik yang terdampak, tetapi juga pelaku usaha kecil hingga konsumen yang harus menanggung kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
#harga plastik berapa #plastik #timur tengah #geopolitik #pelaku umkm