Harga Plastik Naik, DPKUKMP Palangka Raya Belum Memantau, Wakil Rakyat Buka Suara

Novia • Dipublikasikan Jumat, 10 April 2026 | 18:40 WIB
Harga plastik di Sampit naik.MIFTAHUL ILMA/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM
Harga plastik di Sampit naik.MIFTAHUL ILMA/KALTENGPOS.JAWAPOS.COM

 

PALANGKA RAYA-Plt Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perindustrian (DPKUKMP) Kota Palangka Raya Samsul Rizal, mengaku pihaknya belum melakukan pemantauan langsung terkait lonjakan harga plastik di lapangan.

“Belum ada memantau kami,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Minggu (5/4/2026).

Baca Juga: Curhatan Pedagang di Palangka Raya Ketika Harga Plastik Terus Melejit, Banyak Pelanggan Mengeluh

Sementara itu, lonjakan harga plastik yang terjadi di pasaran hingga lebih dari 100 persen tidak hanya menjadi beban bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga dinilai sebagai momentum untuk kembali ke kearifan lokal. 

Hal ini disampaikan Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery. Menurutnya, kenaikan harga plastik seharusnya tidak semata dipandang sebagai masalah, melainkan peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan yang sulit terurai dan berpotensi merusak lingkungan.

“Momentum ini bisa kita gunakan untuk bagaimana kita mengurangi sampah plastik. Kita dorong masyarakat kembali ke alam atau back to nature,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Ia menegaskan, sejak dahulu masyarakat, khususnya di Kalimantan Tengah, telah terbiasa menggunakan bahan alami sebagai kemasan.

Tradisi tersebut, kata dia, merupakan bagian dari budaya yang kini mulai ditinggalkan seiring maraknya penggunaan plastik.

Baca Juga: Harga Plastik Naik, Pedagang Sayur PPM: Tak Berdampak ke Penjualan

“Orang Dayak dulu terbiasa membungkus makanan dengan daun pisang, daun nipah, bahkan menggunakan rotan. Itu sudah ada sejak nenek moyang kita, sebelum plastik dikenal,” jelasnya.

Khemal menilai, penggunaan bahan alami seperti daun pisang, daun nipah, maupun bahan organik lainnya tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai tambah dari sisi kesehatan. Ia mengingatkan bahwa penggunaan plastik, terutama dalam kondisi panas, berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan jika digunakan secara terus-menerus.

“Kalau plastik direbus atau digunakan untuk makanan panas, itu bisa berdampak ke kesehatan. Jadi lebih baik kita kembali ke bahan alami yang jelas lebih aman dan bisa terurai,” tegasnya.

Baca Juga: Dilema Pelaku UMKM Sampit Tatkala Harga Plastik Naik, Serba Salah Mau Naikkan Harga atau Tidak

Lebih lanjut, ia melihat kondisi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Kenaikan harga plastik dinilai dapat mendorong tumbuhnya kreativitas pelaku UMKM dalam menciptakan kemasan alternatif berbahan dasar alam.

“Dengan kondisi ini, bisa muncul pelaku usaha baru yang membuat tas, besek, atau wadah dari daun dan bahan alami lainnya. Ini bisa mendorong kreativitas masyarakat,” katanya.

Ia mencontohkan, berbagai daerah di Indonesia telah lebih dulu mengembangkan kemasan tradisional yang unik dan bernilai jual tinggi, seperti penggunaan daun jati, anyaman, hingga wadah berbahan tanah liat yang dikombinasikan dengan penutup alami.

“Di Jawa, misalnya, banyak makanan dikemas dengan daun jati atau wadah alami lainnya. Itu punya nilai estetika sekaligus ramah lingkungan. Kita di Palangka Raya juga punya potensi besar untuk itu,” tambahnya.

Khemal pun mengajak para pelaku usaha agar tidak terlalu khawatir dengan kenaikan harga plastik, melainkan mulai beradaptasi dengan memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia di daerah.

“Tidak usah galau atau khawatir. Alam kita sangat kaya, banyak bahan yang bisa digunakan untuk mengganti plastik. Tinggal bagaimana kita mau kembali memanfaatkannya,” ujarnya.

Ia berharap, momentum kenaikan harga plastik ini dapat menjadi titik balik bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus menghidupkan kembali budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari.

“Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Ini saatnya kita menjaga lingkungan, mengurangi sampah plastik, dan kembali ke budaya kita sendiri,” tandasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
harga plastik naik plastik mahal besek kemasan alternatif sampah plastik