PALANGKA RAYA-Pengamat ekonomi sekaligus Akademisi Universitas Palangka Raya, Fitria Husnatarina buka suara terkait kenaikan harga plastik.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor nafta sebagai bahan dasar utama pembuatan plastik. Ketergantungan tersebut bahkan mencapai sekitar 60 hingga 70 persen dari total kebutuhan nasional.
“Indonesia itu pengimpor nafta dalam jumlah sangat besar, sekitar 60 sampai 70 persen. Jadi dengan ketergantungan tersebut, ketika situasi global memanas, kita tidak bisa menghindari dampaknya,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menegaskan, konflik yang terjadi di sejumlah negara produsen bahan baku turut melumpuhkan aktivitas ekonomi dan perdagangan. Negara-negara yang sebelumnya menjadi pemasok utama tidak lagi mampu menjalankan ekspor secara normal karena fokus pada konflik yang berlangsung.
“Negara yang berkonflik tentu tidak bisa menjalankan aktivitas ekonomi secara normal. Semua terganggu, termasuk penyediaan bahan baku yang biasanya mereka ekspor,” jelasnya.
Selain itu, gangguan pada jalur distribusi internasional menjadi faktor krusial yang memperparah kondisi. Salah satu titik yang terdampak adalah Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan global, termasuk pengiriman bahan baku industri.
“Ketika jalur distribusi terganggu, maka supply chain ikut terganggu. Barang tidak bisa tiba sesuai jadwal, bahkan bisa tertahan. Ini yang menyebabkan kelangkaan di dalam negeri,” ungkapnya.
Fitria menjelaskan, kelangkaan terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan barang. Permintaan terhadap kemasan plastik tetap tinggi dan cenderung stabil, namun pasokan tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Permintaan tetap ada, bahkan konsisten, tapi barangnya tidak tersedia atau jumlahnya tidak cukup. Itulah yang disebut kelangkaan, dan dari situlah harga akan melonjak,” tegasnya.
Menurutnya, selama Indonesia belum mampu memproduksi sendiri bahan baku plastik secara mandiri, maka potensi gejolak seperti ini akan terus berulang, terutama ketika konflik geopolitik global belum mereda.
“Sepanjang kita belum bisa menyediakan bahan baku sendiri, maka selama itu pula kita akan rentan terhadap gangguan global,” katanya.
Dampak dari kondisi ini paling terasa pada sektor yang sangat bergantung pada plastik, terutama industri makanan dan minuman. Selama ini, penggunaan plastik di sektor tersebut masih sangat dominan dan menjadi bagian dari kebiasaan yang sulit diubah.
“Kita ini masih sangat bergantung pada plastik, terutama di industri food and beverage. Hampir semua produk menggunakan kemasan plastik,” ujarnya.
Potensi Memicu Inflasi
Lebih lanjut, Dosen Universitas Palangka Raya ini mengingatkan bahwa lonjakan harga akibat kelangkaan ini berpotensi memicu inflasi, terutama jika tidak ada barang substitusi yang dapat menggantikan fungsi plastik. Ketika permintaan tinggi namun barang tidak tersedia, harga akan terus terdorong naik.
“Inflasi akan terjadi jika barang langka dan tidak ada substitusinya. Maka solusi utamanya adalah menyediakan alternatif pengganti,” jelasnya.
Dalam konteks ini, Fitria mendorong adanya perubahan pola pikir, baik dari pelaku industri maupun masyarakat. Ketergantungan terhadap plastik dinilai sudah saatnya dikurangi dengan beralih ke bahan kemasan lain yang lebih mudah diproduksi di dalam negeri.
“Tidak mungkin kita nol persen menggunakan plastik, tapi kita bisa mulai beralih. Misalnya menggunakan bahan dari alam seperti daun atau bahan lain yang tersedia di dalam negeri,” tuturnya.
Ia juga melihat kondisi ini sebagai momentum penting untuk membangun kebiasaan baru yang lebih berkelanjutan. Masyarakat dapat mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa wadah sendiri atau menggunakan kemasan yang dapat digunakan ulang.
“Momentum ini bisa kita manfaatkan untuk membangun gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan,” tambahnya.
Di sisi lain, ia menilai tekanan akibat kelangkaan justru dapat mendorong lahirnya inovasi di sektor industri. Dalam kondisi keterbatasan, pelaku usaha akan terdorong untuk mencari solusi alternatif yang lebih kreatif.
“Kadang inovasi itu tidak hanya muncul karena keinginan, tapi karena keterpaksaan. Ketika bahan tidak tersedia, industri akan dipaksa untuk beradaptasi,” ujarnya. (*)
Editor : Agus Pramono