Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Minyak Goreng Subsidi Langka di Pasar yang Ada di Sampit, Harga Eceran Ikut Terseret Naik

Miftahul Ilma • Sabtu, 11 April 2026 | 11:15 WIB
Aktivitas jual beli di Pasar Sampit.Miftah/Kaltengpos.jawapos.com
Aktivitas jual beli di Pasar Sampit.Miftah/Kaltengpos.jawapos.com

 SAMPIT – Peredaran minyak goreng bersubsidi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menipis. Dampaknya langsung terasa di tingkat pedagang, yang kini kesulitan mendapatkan pasokan dengan harga sesuai ketentuan pemerintah.

Pantauan di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) menunjukkan sebagian pedagang tidak lagi memperoleh stok dari jalur distribusi utama.

Untuk tetap berjualan, mereka terpaksa mengambil barang dari pihak lain dengan harga yang lebih tinggi.

Seorang pedagang sembako, Lina, mengaku kondisi ini sudah berlangsung beberapa waktu terakhir. Ia menyebut pasokan yang biasanya tersedia kini justru sulit diakses.

“Biasanya bisa ambil langsung, sekarang sudah jarang ada. Kalau mau tetap jual, ya harus cari ke luar, tapi harganya sudah beda,” katanya, Sabtu (11/4/2026).

Lonjakan harga bahan pokok ini disebut mulai terasa sejak menjelang Ramadan dan berlanjut hingga usai Idulfitri. Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda harga kembali normal di pasaran.

Menurutnya, perbedaan harga dari jalur alternatif cukup signifikan sehingga berpengaruh langsung terhadap harga jual di lapangan. Situasi ini membuat pedagang tidak bisa lagi mempertahankan harga sesuai batas yang ditetapkan.

“Modalnya saja sudah naik, jadi tidak mungkin dijual murah. Sekarang kami lepas di kisaran Rp17 ribuan per liter,” ujarnya.

Kondisi ini membuat harga minyak bersubsidi di tingkat konsumen melampaui harga acuan. Pedagang pun berada dalam posisi sulit karena harus menyesuaikan harga tanpa ingin kehilangan pembeli.

Selain minyak goreng, tekanan harga juga terjadi pada sejumlah bahan pokok lainnya. Tepung, beras, hingga bahan olahan lain ikut merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir.

“Yang cepat terasa itu tepung sama beras. Hampir semuanya naik, meskipun beda-beda tiap jenis,” tambahnya.

Kenaikan harga beras terutama terjadi pada pasokan dari luar daerah. Sementara beberapa jenis lokal masih relatif stabil, meski tidak sepenuhnya kebal dari kenaikan.(mif)

Editor : Agus Pramono
#harga minyak goreng #minyak goreng subsidi #minyak goreng langkah #pasar Sampit