Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

BBM Naik, Sopir Klotok di Sampit Menjerit: Pendapatan Anjlok, Biaya Solar Melonjak Tajam

Miftahul Ilma • Kamis, 23 April 2026 | 19:30 WIB
Kemudi klotok, Adri keluhkan kenaikan BBM, penghasilannya terdampak.
Kemudi klotok, Adri keluhkan kenaikan BBM, penghasilannya terdampak.

 

SAMPIT – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memukul sektor transportasi sungai di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

Sopir klotok yang selama ini menjadi andalan warga Kecamatan Seranau mengaku pendapatan mereka merosot tajam setelah biaya operasional melonjak akibat mahalnya solar. 

Kondisi ini membuat para pengemudi kapal penyeberangan tradisional semakin terjepit di tengah kebutuhan masyarakat yang tetap bergantung pada transportasi air setiap hari.

Letak wilayah yang berada di seberang Sungai Mentaya membuat warga bergantung pada transportasi air tersebut setiap hari. Namun, akibat kenaikan BBM, pendapatan para sopir klotok ikut menurun.

Salah seorang kemudi klotok, Adri, menyebut perahu motor yang ia gunakan berbahan bakar solar subsidi. Namun, ia tidak memungkinkan membawa klotoknya ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). 

Sementara itu, pembelian menggunakan jerigen juga tidak diperbolehkan, sehingga ia terpaksa membeli dari pihak lain dengan harga lebih tinggi.

“Kalau bawa klotok ke SPBU tidak mungkin. Beli menggunakan jerigen pun tidak boleh. Akhirnya beli ke pengecer,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Akibat kenaikan BBM, harga pun ikut melonjak. Ia mengaku, jika sebelumnya hanya mengeluarkan Rp50 ribu untuk lima liter BBM, kini harus merogoh hingga Rp120 ribu.

Kondisi tersebut otomatis memangkas pendapatan hariannya.

“Biasanya beli Rp50 ribu lima liter. Sekarang bisa sampai Rp120 ribu,” jelasnya.

Meski demikian, Adri mengaku tidak ingin menaikkan tarif taksi air. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini tidak tepat untuk menaikkan harga, terlebih transportasi tersebut merupakan kebutuhan harian masyarakat.

“Biasanya sehari dapat Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. Sekarang paling Rp70 ribu sampai Rp80 ribu. Kerjanya dari sore sampai malam. Sekali menyeberang Rp5 ribu. Kalau susur sungai Rp150 ribu sampai bandara,” jelasnya.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, ia memilih menunggu penumpang lebih banyak sebelum berangkat. Cara ini dinilai lebih efektif untuk menekan penggunaan BBM.

“Sekarang tunggu penumpang banyak dulu, misalnya lima atau enam orang sekali jalan. Kalau cuma satu orang bisa rugi,” tandasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
#kenaikan bbm #spbu antre #solar langka #bahan bakar minyak (bbm) #solar