Antrean BBM Mengular, Pertamina Sebut Beberapa SPBU Perpanjang Jam Buka, Berikut Daftarnya
rifqi• Selasa, 5 Mei 2026 | 09:30 WIB
Antrean di SPBU Jalan Galaxy. Rifqi/Kalteng Pos
PALANGKA RAYA – Antrean panjang kendaraan untuk mengisi BBM jenis Pertamax di sejumlah SPBU Kota Palangka Raya tak kunjung mereda. Bahkan, antrean kendaraan kerap meluber hingga ke badan jalan dan mengganggu arus lalu lintas, terutama di SPBU Pal 2, Jalan Yos Sudarso, hingga kawasan Jalan Galaksi Raya.
Pantauan di lapangan, antrean mobil mengular sejak pagi hingga sore hari. Di beberapa titik, kendaraan bahkan memanjang hingga melewati area SPBU dan memakan sebagian badan jalan, menyebabkan perlambatan lalu lintas di ruas jalan utama kota.
Sales Branch Manager (SBM) Kalteng 1 Fuel, Hari Harjunadi, Senin (5/4/2026), mengakui bahwa antrean masih terjadi pada jam-jam tertentu, khususnya saat aktivitas masyarakat meningkat.
“Memang dalam beberapa hari terakhir antrean terjadi pada pagi, siang, dan sore hari. Itu jam-jam padat, seperti saat orang berangkat kerja atau mengantar anak sekolah,” ujarnya.
Untuk mengurai antrean, pihaknya telah mengoptimalkan operasional sejumlah SPBU di Palangka Raya. Dari lima SPBU utama, sebagian telah diperpanjang jam operasionalnya bahkan hingga 24 jam.
“SPBU Pal 12 sudah beroperasi 24 jam. Kemudian SPBU di Yos Sudarso, Diponegoro, Sukarno, dan Imam Bonjol kami perpanjang hingga pukul 23.00 atau 24.00,” jelasnya.
Menurutnya, antrean panjang sempat mencapai puncaknya beberapa waktu lalu, khususnya sebelum penyesuaian harga BBM pada 18 April. Saat itu, antrean didominasi kendaraan besar seperti truk yang ikut mengisi Dexlite di SPBU dalam kota.
“Kondisi tiga minggu lalu cukup parah. Antrean truk sampai masuk ke dalam kota, bahkan di Pal 2 sampai memakan badan jalan,” katanya.
Ia menjelaskan, lonjakan tersebut dipicu oleh selisih harga yang cukup tinggi antara solar industri dan Dexlite, yang saat itu mencapai hampir Rp10.000 per liter. Hal ini membuat kendaraan industri beralih menggunakan Dexlite.
Namun saat ini, selisih harga telah menurun menjadi sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000. Dampaknya, kendaraan industri mulai kembali menggunakan solar industri dan antrean Dexlite berangsur berkurang.
“Sekarang antrean Dexlite sudah jauh berkurang, karena kendaraan industri mulai kembali ke solar industri,” ujarnya.
Meski demikian, antrean untuk Pertamax masih terjadi, terutama di SPBU yang dianggap strategis oleh masyarakat. Salah satu titik yang paling padat adalah SPBU Imam Bonjol.
“Berdasarkan pengamatan, masyarakat cenderung punya SPBU langganan. Jadi tetap memilih antre di lokasi tertentu meskipun ada alternatif lain,” jelasnya.
Padahal, Pertamina telah menyiapkan alternatif SPBU lain untuk distribusi pengisian, seperti di kawasan RTA Milono.