Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Gara-Gara Waktu Terbuang Antre di SPBU, Pasokan Sayur dan Sembako Alami Keterlambatan

rifqi • Jumat, 8 Mei 2026 | 13:30 WIB
Randik, sopir pengangkut sayur dan sembako. Rifqi/Kalteng Pos
Randik, sopir pengangkut sayur dan sembako. Rifqi/Kalteng Pos
 
 
PALANGKA RAYA-Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kalteng masih langka. Masyarakat kesulitan mendapatkan BBM subsidi dan non subsidi, terlihat mobil hingga sepeda motor mengantre panjang hampir di seluruh SPBU di Palangka Raya. Kelangkaan BBM ini mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
 
Sopir distribusi sembako hingga pekerja harian mengaku mengalami kerugian, karena sulitnya mendapatkan BBM dalam beberapa hari terakhir.
 
Randik, driver pengangkut sayur dan sembako rute Palangka Raya–Gunung Mas, mengaku pengiriman barang sempat tertunda karena tidak mendapatkan BBM saat meng­antre di SPBU.
 
“Harusnya kemarin sudah berangkat pengantaran ke Gunung Mas, tapi tertunda karena minyak ini,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
 
Ia mengatakan pembatasan pembelian BBM membuat sopir angkutan kesulitan memenuhi kebutuhan perjalanan antardaerah.
 
“Untuk Pertalite cuma Rp200 ribu, Pertamax Rp400 ribu. Kemarin saya sudah antre tapi tidak dapat minyak,” katanya.
 
Menurutnya, jika hari itu berhasil mendapatkan BBM, pengiriman baru bisa dilakukan pada malam hari.
 
“Saya berharap minyak ini bisa kembali normal seperti biasa,” tambahnya. Keluhan serupa disampaikan Ibnu (24), warga Palangka Raya yang bekerja di salah satu rumah makan di kota tersebut. Ia mengaku kehabisan bensin saat hendak berangkat kerja karena enggan ikut mengantre panjang di SPBU.
 
“Saya lihat antreannya tidak masuk akal, ibarat cari emas di SPBU,” ucapnya. Karena tidak mendapatkan BBM di SPBU, ia memilih membeli Pertalite eceran di Jalan Rajawali dengan harga Rp15 ribu per liter. Namun saat hendak membeli kembali, stok BBM eceran juga disebut kosong.
 
Akibatnya, sepeda motor yang digunakannya mogok di jalan dan terpaksa didorong menuju SPBU di Jalan Yos Sudarso.
 
Ibnu juga mengaku keterlambatan masuk kerja akibat persoalan BBM berdampak langsung pada penghasilannya.
 
“Kalau telat, potong gaji Rp20 ribu sehari,” katanya.
 
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk mengatasi antrean dan distribusi BBM yang dinilai mulai menyulitkan masyarakat kecil.
 
“Sangat berpengaruh ke masyarakat,” tandasnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana
#distribusi sembako #pertalite #bbm eceran #pertamax #bbm