Persatuan Pengecer BBM Kalteng Buka Suara: Jangan Dipandang Negatif, Masyarakat Masih Butuh Kami
Ayu Oktaviana• Senin, 11 Mei 2026 | 12:00 WIB
Pengecer BBM di Gunung Mas sempat menjual dengan harga Rp45 ribu/ liter. Warga
PERSOALAN antrean panjang BBM di sejumlah SPBU Kota Palangka Raya mulai mendapat perhatian dari kalangan pengecer.
Persatuan Pengecer Bahan Bakar Minyak (PPBBM) Kalteng menawarkan keterlibatan pengecer untuk membantu masyarakat memperoleh BBM lebih mudah di tengah kondisi distribusi yang belum sepenuhnya stabil.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi PPBBM Kalteng yang digelar di Gedung Pertemuan Hotel Hawai, Sabtu malam (9/5/2026).
Dalam pertemuan itu, pengecer dinilai masih memiliki peran penting membantu masyarakat, terutama di kawasan yang sulit menjangkau SPBU atau saat antrean masih terjadi.
Ketua PPBBM Kalteng, Sosanta Januarason mengatakan, keberadaan pengecer seharusnya tidak dipandang negatif selama penjualan dilakukan secara terbuka dan dengan harga yang masih wajar.
“Selama ini pengecer seperti menghilang dan terkesan bermain kucing-kucingan. Padahal masyarakat juga membutuhkan mereka untuk mendapatkan BBM lebih mudah,” ujarnya.
menekan harga jual BBM eceran agar tidak memberatkan masyarakat di tengah kondisi antrean panjang. Dalam rapat tersebut, pengecer diminta menjual BBM dengan harga yang masih rasional.
“Kami meminta harga eceran berada di kisaran Rp. 12.000 sampai Rp. 13.000 ribu per liter untuk Pertalite. Untuk pertamax bisa dijual dengan harga Rp. 14.000 hingga Rp. 15.000 per liter,” katanya.
Ia menegaskan pihaknya tidak mendukung praktik penjualan BBM dengan harga terlalu tinggi karena dinilai hanya memperburuk kondisi masyarakat yang sedang kesulitan mendapatkan bahan bakar.
“Kalau ada yang menjual sampai Rp16 ribu atau lebih, itu di luar tanggung jawab saya. Jangan mengambil keuntungan di atas kesulitan masyarakat,” tegas Januarason.
Selain membahas harga, PPBBM Kalteng juga berencana melakukan audiensi dengan Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya dan PT Pertamina untuk mencari solusi terkait keberadaan pengecer BBM. Menurut Januarason, banyak pengecer yang selama ini merasa berada dalam posisi sulit karena kerap dicap sebagai pelangsir.
“Kami berharap ada kebijakan atau mekanisme khusus dari Pertamina supaya keberadaan pengecer lebih tertata dan tidak selalu dianggap ilegal,” ucapnya.
Ia menambahkan, keterlibatan pengecer secara terbuka diharapkan dapat membantu mempercepat distribusi BBM di masyarakat sekaligus mengurangi antrean kendaraan di SPBU.
“Kalau semua pihak bergerak bersama, kami optimistis antrean BBM bisa mulai terurai dalam beberapa hari ke depan,” tutupnya. (*)