Stok BBM di Kalteng Tak Lagi Aman, tapi Sangat Aman! 75 SPBU dan 124 Pertashop Beri Pelayanan
Novia• Senin, 11 Mei 2026 | 13:30 WIB
Aktivitas di SPBU yang ada di Palangka Raya. Rifqi/Kalteng Pos
PALANGKA RAYA–Gubernur H Agustiar Sabran kembali melakukann pertemuan bersama jajaran PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, dan unsur forkopimda, Sabtu (9/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Agustiar menyebut Pertamina menyampaikan bahwa stok BBM di Kalimantan Tengah dalam kondisi aman, bahkan disebut sangat aman.
Saat ini terdapat 75 SPBU reguler, 124 Pertashop, delapan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), serta tiga depo BBM yang melayani wilayah Kalteng.
“Yang menarik, di Kalteng ini Pertamax juga yang dicari. Kalau Pertalite enggak ada, Pertamax juga tetap dicari. Ini berbeda dengan daerah lain,” ungkap gubernur.
Untuk mencegah situasi dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab, Kepala Kepolisian Daerah Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan, menyatakan akan menempatkan personel di sejumlah SPBU dalam beberapa hari ke depan.
Executive General Manager Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Isfahani, menegaskan antrean yang terjadi lebih disebabkan tingginya permintaan, khususnya untuk produk non-subsidi Pertamax, serta faktor kepanikan masyarakat (panic buying), bukan karena pengurangan pasokan.
Berdasarkan data di Terminal BBM Pulang Pisau, stok BBM yang tersedia saat ini meliputi Pertamax: 1.172 kiloliter, Pertalite: 3.340 kiloliter dan Biosolar: 2.179 kiloliter.
Selain Terminal BBM Pulang Pisau, Kalteng juga didukung dua terminal lainnya, yakni di Pangkalan Bun dan Sampit. Untuk memperkuat suplai, distribusi juga mendapat dukungan tambahan dari Terminal BBM Banjarmasin sebagai alternatif dan penyangga stok.
Secara keseluruhan, di wilayah Kalimantan Tengah terdapat sedikitnya 75 SPBU reguler, tiga depo atau fuel terminal, serta delapan SPBE.
Pertamina juga mengelola berbagai format lembaga penyalur, seperti SPBU Mini, SPBU, Pertashop, dan SPBU Satu Harga yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan, termasuk daerah terpencil.
Isfahani mengakui, kondisi geografis Kalteng menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi BBM karena banyak wilayah yang membutuhkan moda khusus untuk menjangkau konsumen.
“Secara geografis, Kalimantan Tengah memiliki tantangan unik. Banyak wilayah yang perlu dijangkau dengan moda khusus agar dapat terdistribusi,” katanya.
Dalam pengembangan fasilitas terminal, kami mengukur kebutuhan dan jangkauan.
Sebuah investasi juga perlu dipertanggungjawabkan secara pengembaliannya. Namun yang paling utama adalah memastikan jangkauan dan ketersediaan sampai ke seluruh wilayah.
“Komitmen kami jelas, menyediakan BBM untuk kebutuhan konsumsi dan komersial masyarakat. Insya Allah kami terus mengawal distribusi ini hingga situasi benar-benar kembali normal,” pungkasnya.(*)