12 Mei 2026, Rupiah Anjlok ke Rp17.507 per Dolar AS, Terendah Dalam Sejarah
Miftahul Ilma• Selasa, 12 Mei 2026 | 13:15 WIB
Uang tunai rupiah.
KALTENGPOS.JAWAPOS – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan kini menyentuh level terendah sepanjang sejarah. Mengutip data Wise pada Selasa (12/5/2026) pukul 11.30 WIB, kurs rupiah berada di angka Rp17.507 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah sepanjang sejarah dan memperpanjang tren pelemahan mata uang Garuda sejak awal 2026.
Pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah memanasnya situasi global, terutama konflik Amerika Serikat dengan Iran yang kembali membuat pasar keuangan dunia bergejolak.
Mengutip CNBC Indonesia, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut gencatan senjata dengan Iran berada di ujung tanduk membuat investor kembali memburu dolar AS sebagai aset aman.
Di saat bersamaan, Iran disebut tetap bersikeras mempertahankan kontrol di Selat Hormuz, jalur penting yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Kondisi itu memicu lonjakan harga minyak global dan memperkuat indeks dolar AS.
Akibatnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali tak terbendung.
Jika melihat ke belakang, pelemahan rupiah bukan pertama kali terjadi. Mata uang Indonesia itu berkali-kali terpukul saat dunia dilanda krisis ekonomi maupun konflik geopolitik.
Fase paling kelam terjadi pada krisis moneter 1998. Saat itu rupiah sempat menyentuh Rp16.800 per dolar AS secara intraday di tengah kerusuhan sosial dan runtuhnya pemerintahan Orde Baru.
Setelahnya, rupiah beberapa kali kembali terguncang. Mulai dari ketidakpastian politik tahun 2001, krisis finansial global 2008, gejolak pasar emerging market 2018, hingga pandemi Covid-19 pada 2020 yang membuat rupiah sempat anjlok ke Rp16.550 per dolar AS.
Namun tekanan kali ini dinilai berbeda karena datang dari kombinasi konflik geopolitik, tingginya suku bunga AS, hingga ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda.
Pada April 2026 lalu, rupiah bahkan sudah lebih dulu menembus level psikologis Rp17.300 per dolar AS setelah Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuannya di level 4,75 persen.
Kini, memasuki Mei 2026, tekanan kembali meningkat setelah ketegangan Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia dan derasnya arus modal keluar ke aset berbasis dolar AS.
Meski demikian, Bank Indonesia sebelumnya menegaskan tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya volatilitas global.
Situasi ini membuat masyarakat mulai waswas. Sebab pelemahan rupiah biasanya ikut berdampak pada harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga potensi kenaikan harga kebutuhan pokok yang berkaitan dengan distribusi dan energi. (*)