Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Harga Barang di Desa Diprediksi Ikut Naik

Agus Pramono • Senin, 18 Mei 2026 | 13:30 WIB
ILUSTRASI : Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi melemah seiring dengan minat pelaku pasar terhadap aset berisiko tinggi.
Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi beberapa sektor terdampak.JPC

 

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS pada Senin (18/5/2026).

Pelemahan mata uang Indonesia itu dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang kini mulai berdampak ke berbagai sektor ekonomi.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran disebut menjadi salah satu pemicu utama. Konflik tersebut mengganggu jalur perdagangan global di Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kondisi itu berdampak langsung pada penguatan indeks dolar AS sekaligus meningkatkan kebutuhan valuta asing di Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah.

“Dengan kenaikan harga minyak mentah yang cukup signifikan, indeks dolar yang juga mengalami penguatan, ini berdampak terhadap kebutuhan dolar yang cukup tinggi dari Indonesia karena Indonesia impor minyak mentah 1,5 juta barel per hari,” ujar Ibrahim Assuaibi.

Pelemahan rupiah atau depresiasi nilai tukar tersebut diperkirakan memberi tekanan besar terhadap sejumlah perusahaan nasional, terutama emiten yang memiliki kewajiban dalam dolar AS.

PT Indosat Tbk (ISAT), misalnya, disebut bisa kehilangan laba tahun berjalan hingga US$842 ribu atau sekitar Rp14,73 miliar setiap rupiah melemah 0,28 persen terhadap dolar AS.

Sementara PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) diperkirakan mengalami penurunan laba hingga Rp41,27 miliar apabila rupiah melemah sebesar 5 persen.

Di sektor konsumsi, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga ikut terdampak. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, perusahaan berpotensi kehilangan laba sebelum pajak hingga Rp42,99 miliar setiap terjadi perubahan kurs sebesar 1 persen terhadap dolar AS.

Sepanjang tiga bulan pertama 2026, MYOR menggunakan asumsi kurs Rp16.993 per dolar AS. Dengan posisi rupiah kini menyentuh Rp17.623 per dolar AS, maka mata uang domestik tercatat telah terdepresiasi sekitar 1,03 persen.

Di tengah gejolak tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap fluktuasi nilai tukar dolar AS, khususnya warga di pedesaan.

Namun pandangan berbeda disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Airlangga, Gigih Prihantono. Ia menilai pelemahan rupiah tetap berdampak langsung terhadap seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga desa.

“Yang harus disadari bahwa kita punya ketergantungan impor bahan baku ataupun barang setengah jadi dan barang jadi. Sehingga ini sangat membebani masyarakat secara langsung mulai dari ke atas dan di bawah baik kota atau di desa,” katanya.

Menurut Gigih, meski masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar AS, banyak kebutuhan sehari-hari yang tetap bergantung pada barang impor.

“Masalah dalam lagi, memang orang desa tidak membayar pakai dolar, tapi harga rupiahnya itu penting. Ketika impornya naik, maka barang kita mayoritas barang jadi misal baju, sepeda motor, elektronik ini kan banyak impor dan ini menyebabkan tekanan di kelas bawah,” jelasnya.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menegaskan dampak pelemahan rupiah akan menjalar hingga ke desa karena ekonomi Indonesia kini semakin terintegrasi dengan sistem global.

Menurut Bhima, berbagai kebutuhan masyarakat desa seperti LPG, pupuk, kendaraan bermotor, hingga barang elektronik sangat dipengaruhi nilai tukar dolar AS.

“Jangan dikira pelemahan nilai rupiah terhadap dolar yang sudah Rp17.600 itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa,” ujarnya.

“Mulai dari handphone, kendaraan bermotor, komponen elektronik, mesin cuci hingga pupuk di sentra pertanian akan ikut terdampak kalau rupiah makin melemah,” sambungnya.

Kondisi ini membuat masyarakat mulai khawatir terhadap potensi kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup dalam beberapa waktu ke depan apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.(*)

 

Editor : Agus Pramono
#nilai tukar rupiah #dollar to rupiah #kurs dollar hari ini #dampak pelemahan rupiah #harga barang naik