KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Nilai tukar rupiah kian merosot dari hari ke hari. Pada Jumat (5/6/2026) pukul 9.30 WIB, rupiah berada di angka Rp18.014 per satu dolar Amerika Serikat (AS).
Merosotnya nilai tukar rupiah itu diprediksi bakal memberikan efek domino bagi perekonomian. Barang-barang impor diprediksi bakal mengalami kenaikan. Hal itu membuat masyarakat khawatir.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Petani di Kotim Dirundung Kecemasan soal BBM dan Pupuk Subsidi
Pemerintah sendiri mengklaim pelemahan rupiah terjadi akibat gejolak ekonomi global.
Salah satunya adalah ketegangan di Timur Tengah yang sedang berkecamuk.
Namun, penilaian berbeda diberikan oleh Artificial Intelligence (AI). Meski hanya sebatas mesin, prediksi AI bisa saja terjadi.
Seorang konten kreator cyber, Mr. Bert, mengungkapkan hasil prediksi AI yang mengklaim nilai tukar rupiah berpotensi menembus Rp22.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir 2026.
Prediksi itu berasal dari empat platform AI ternama yang diperintahkan untuk menganalisis kondisi ekonomi Indonesia.
Dalam prediksi itu, pelemahan rupiah berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu program nasional pemerintah.
Baca Juga: Rupiah Melemah, BPBD Kotim Terpaksa Hemat Operasional dan Kurangi Mobilitas Armada
Menurutnya, beberapa AI yang digunakan memberikan proyeksi serupa mengenai arah pergerakan rupiah hingga penghujung tahun.
Ia mengklaim salah satu faktor yang disebut dalam analisis tersebut adalah kekhawatiran investor terhadap pembiayaan program MBG.
“Gemini menyatakan rupiah akan tembus Rp22 ribu di akhir tahun 2026. Dan di sini dinyatakan oleh Cloud bahwa penyebabnya adalah MBG,” ujarnya, dikutip Jumat (5/6/2026).
Dalam analisis itu, MBG disebut tak disukai oleh negara asing. Hal itu menyebabkan para investor memilih hengkang dari Indonesia. Rupiah juga diprediksi bakal mengalami penurunan hingga Rp22 ribu.
“Karena asing itu tidak menyukai dan membenci MBG. Akibatnya seluruh investor asing keluar dari Indonesia,” bebernya.
Ia juga mengaku menggunakan beberapa platform AI lain seperti Grok, Kimi, hingga model analisis berbasis Visual Studio untuk membandingkan hasil prediksi yang muncul.
Menurutnya, sebagian besar memberikan gambaran yang tidak jauh berbeda.
Meski demikian, Mr. Bert mengakui hasil analisis AI bukanlah kepastian yang akan terjadi. Ia juga menegaskan dirinya bukan ekonom maupun pengamat keuangan sehingga prediksi tersebut tidak dapat dijadikan acuan mutlak. Namun, prediksi sebelumnya menyatakan hasil yang disampaikan cukup akurat.
“Tentu saja ini belum tentu 100 persen akurat. Namun dari hasil-hasil sebelumnya, prediksi AI itu selalu memberikan jawaban yang sangat akurat,” katanya.
Dalam video itu, ia meminta pemerintah mengevaluasi kembali efektivitas Program MBG. Menurutnya, kajian menyeluruh diperlukan agar program tersebut benar-benar memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan negara.
“Tolong dikaji lagi MBG tersebut. Apakah benar memberikan hasil nyata bagi masyarakat Indonesia atau justru memberikan penderitaan bagi rakyat Indonesia,” imbuhnya.(*)
Editor : Ayu Oktaviana