Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Rupiah Juga Babak Belur Terhadap Ringgit, Turis Malaysia Pesta Belanja di Indonesia

Miftahul Ilma • Jumat, 5 Juni 2026 | 17:00 WIB
Turis Malaysia dan SG borong barang berkualitas dengan harga murah akibat rupiah melemah.
Turis Malaysia dan SG borong barang berkualitas dengan harga murah akibat rupiah melemah.

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Nilai tukar rupiah sekarang ini tampaknya benar-benar merosot. Tak hanya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), rupiah juga jatuh terhadap mata uang ringgit milik negara tetangga, Malaysia.

Dalam pantauan Jumat (5/6/2026) pukul 13.32 WIB, rupiah berada di angka Rp4.470 per satu ringgit Malaysia. Hal itu menjadi sinyal bahwa rupiah tengah babak belur.

Baca Juga: Ramalan 4 Aplikasi AI Bikin Ngeri: Rupiah Anjlok ke Rp22.000, Inilah Penyebab Investor Asing Kabur

Kondisi itu dimanfaatkan oleh turis Malaysia untuk menyambangi Indonesia. Konten kreator David Alfa Sunarna dalam kontennya mengatakan turis Negeri Jiran itu datang berbelanja di Indonesia karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia.

Ia menyebut para turis mulai berbelanja pakaian, parfum, kuliner, hingga oleh-oleh.

Menurutnya, kondisi tersebut memang menguntungkan sektor pariwisata dan perdagangan dalam jangka pendek, namun di sisi lain menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.

“Turis Malaysia sekarang lagi ramai menyerbu Indonesia. Mereka datang ke Jakarta dan memborong banyak barang karena menurut mereka harganya murah,” ujarnya dalam konten Instagram, dikutip Jumat (5/6/2026).

Kondisi itu dinilai memang dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Namun, ia menyoroti alasan di balik meningkatnya daya beli wisatawan Malaysia di Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Melemah, BPBD Kotim Terpaksa Hemat Operasional dan Kurangi Mobilitas Armada

“Yang mau saya bahas bukan turisnya. Mereka tamu dan bagus untuk ekonomi kita. Tapi kenapa mereka berbondong-bondong ke sini? Karena rupiah kita murah,” katanya.

Ia mencontohkan nilai tukar sekitar 500 ringgit yang menurutnya setara lebih dari Rp2 juta. Dengan nominal tersebut, wisatawan Malaysia disebut bisa menikmati transportasi, penginapan, kuliner, hingga berbelanja oleh-oleh selama berada di Indonesia.

Menurut David, sejumlah wisatawan bahkan mengaku mendapatkan barang dengan harga jauh lebih murah dibandingkan di negara asal mereka. Bagaimana tidak? Pada 29 Mei lalu saja nilai tukar ringgit terhadap rupiah telah mencapai sekitar Rp4.500 per ringgit. Rekor terlemah sepanjang sejarah.

“Ada yang cerita beli parfum dan kemeja batik sampai 80 persen lebih murah dibanding di Malaysia. Wajar kalau mereka senang liburan ke sini,” ujarnya.

Dalam videonya, David juga menyinggung pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang regional. Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor global seperti konflik geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia. Akan tetapi, juga kemungkinan adanya arus keluar modal asing dari Indonesia.

“Menurut saya pasti ada outflow dolar yang besar keluar dari negara ini. Investor-investor asing ini, antek-antek asing ini banyak yang menarik dananya dari Indonesia,” katanya.

Selain itu, ia menyinggung kondisi fiskal pemerintah yang menurutnya perlu mendapat perhatian. David mengingatkan bahwa pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga berpotensi meningkatkan harga berbagai barang impor dan biaya produksi dalam negeri.

“Rupiah lemah artinya barang impor makin mahal. Gadget, obat-obatan, bahan baku industri, sampai cicilan utang negara dalam dolar juga ikut terdampak,” ujarnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Malaysia yang menurutnya memiliki fundamental ekonomi lebih kuat. Ia menilai kekuatan ringgit saat ini didukung oleh kinerja ekspor dan kondisi ekonomi yang relatif stabil.

“Kalau kita bandingin sama Malaysia, neraca dagang mereka surplus 24 miliar ringgit. Ekspornya tumbuh, PDB di atas 5 persen. Fundamental ekonomi mereka sehat. Makanya ringgitnya kuat,” katanya.

“Ini bukan semata-mata karena Malaysia naik. Tapi karena kita yang sedang turun. Itu yang menurut saya harus menjadi perhatian,” sambungnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya melihat fenomena ramainya turis Malaysia berbelanja di Indonesia sebagai hal yang menghibur. Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat menjadi pengingat penting mengenai kesehatan ekonomi nasional.

“Kalau melihat turis Malaysia bilang barang Indonesia murah, jangan cuma ketawa. Buat mereka itu liburan murah, tapi buat kita bisa menjadi alarm. Pertanyaannya, kapan rupiah kita kembali sehat?” pungkasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
#nilai tukar rupiah #Ringgit #pariwisata #ekonomi nasional