Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Rupiah Melemah, Harga Bawang hingga Minyak Goreng Merangkak Naik di Sampit

Miftahul Ilma • Senin, 8 Juni 2026 | 13:45 WIB
Harga bawnag ikut naik di tengah rupiah melemah.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Harga bawnag ikut naik di tengah rupiah melemah.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Pelemahan nilai tukar rupiah mulai menimbulkan efek domino. Sejumlah komoditas di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir. 

Kondisi itu terutama terlihat barang yang memiliki keterkaitan dengan impor maupun biaya distribusi. Saat ini, Senin (8/6/2026) rupiah berada diangka Rp18.177 per satu dolar Amerika Serikat (AS). 

Di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, pedagang mengaku kenaikan harga terjadi pada berbagai kebutuhan pokok, mulai dari bawang, minyak goreng hingga kacang-kacangan. 

Meski sebagian besar kenaikannya masih berada di kisaran 3 hingga 10 persen, kondisi tersebut mulai membebani pelaku usaha maupun konsumen.

Yogi, salah seorang pedagang di Pasar PPM, mengatakan kenaikan harga paling mencolok terjadi pada bawang merah. Komoditas yang sebelumnya dijual sekitar Rp45 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram.

“Yang paling terasa itu bawang merah. Kalau sebelumnya Rp45 ribu, sekarang jadi Rp60 ribu. Bahkan ada yang sampai Rp65 ribu,” ujarnya, Senin (8/6/2026). 

Tak hanya bawang merah, bawang putih juga ikut mengalami kenaikan. Harga yang sebelumnya berkisar Rp35 ribu per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram.

Menurut Yogi, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga sejumlah barang, terutama komoditas yang masih bergantung pada pasokan impor.

“Kalau biji-bijian kan kebanyakan dari barang impor. Memang rupiah lagi turun sampai Rp18 ribuan, jadi modal kami pasti ikut bertambah,” katanya.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas kacang-kacangan. Harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp520 ribu per karung ukuran 50 kilogram kini naik menjadi Rp550 ribu. Akibatnya, harga jual ke konsumen juga ikut terkerek.

“Yang tadinya bisa dijual Rp38 ribu, sekarang paling tidak Rp40 ribu. Barang-barang impor memang jelas naik,” ucapnya.

Selain dipengaruhi kurs rupiah, kenaikan biaya logistik turut memberi tekanan terhadap harga pangan.

Yogi menyebut tarif kontainer pengangkutan barang mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir sehingga berdampak pada harga beras dan kebutuhan pokok lainnya.

“Harga kontainer sebelumnya sudah naik sekitar Rp3 juta, sekarang tambah lagi sekitar Rp1,5 juta. Itu pasti berpengaruh ke harga barang,” jelasnya.

Meski demikian, Yogi berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Ia menilai harga kebutuhan pokok berpotensi kembali turun apabila nilai tukar rupiah menguat dan biaya impor mulai stabil.

“Kalau rupiah membaik, jelas ada penurunan harga. Memang tidak terlalu signifikan, tapi pasti ada penyesuaian,” pungkasnya. (*)

Editor : Agus Pramono
#harga minyak goreng #nilai tukar rupiah #rupiah hari ini #harga bawang