PALANGKA RAYA – Industri kelapa sawit kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu penggerak utama perekonomian Kalimantan Tengah. Di tengah dinamika ekonomi global, sektor perkebunan sawit tidak hanya menopang kinerja ekspor daerah, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2026 mencapai 139,43 poin atau naik 1,22 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluaran yang harus mereka keluarkan.
Peningkatan NTP tidak lepas dari stabilnya harga komoditas perkebunan di pasar global, terutama kelapa sawit yang masih menjadi komoditas andalan Kalimantan Tengah.
Selain berdampak pada tingkat kesejahteraan petani, sektor sawit juga memberikan kontribusi besar terhadap perdagangan luar negeri daerah.
Data BPS menunjukkan nilai ekspor Kalimantan Tengah pada Maret 2026 mencapai US$373,46 juta. Sementara itu, akumulasi ekspor selama Januari hingga Maret 2026 telah menembus US$931,49 juta.
Surplus neraca perdagangan daerah pun tetap terjaga, salah satunya berkat kontribusi ekspor minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang masih mendominasi struktur ekspor nonmigas Kalimantan Tengah.
Posisi Kalimantan Tengah sebagai salah satu sentra sawit nasional juga semakin menguat. Berdasarkan data perkebunan, luas areal kelapa sawit di provinsi ini mencapai 2,164 juta hektare, sedikit lebih luas dibandingkan Kalimantan Barat yang memiliki sekitar 2,156 juta hektare. Dengan capaian tersebut, Kalimantan Tengah menjadi salah satu daerah dengan perkebunan sawit terluas di Indonesia.
Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan kondisi geopolitik global turut memengaruhi perkembangan industri sawit.
Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak pada kenaikan sejumlah komponen biaya, termasuk sektor transportasi dan kebutuhan pokok.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan harga komoditas sawit di pasar internasional yang berdampak positif terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani.
"Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Kalimantan Tengah," ujar Rawing Rambang.
Meningkatnya harga TBS memberikan ruang yang lebih besar bagi petani untuk meningkatkan daya beli dan konsumsi rumah tangga. Hal itu tercermin dari membaiknya indikator kesejahteraan masyarakat pedesaan dalam beberapa bulan terakhir.
Di tengah tantangan global, industri sawit tetap menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Kalimantan Tengah selain sektor pertambangan batu bara. Permintaan yang stabil dari negara-negara tujuan ekspor memberikan kepastian pasar bagi pelaku usaha dan petani sawit di daerah.
Ke depan, sektor sawit diperkirakan masih akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah, terutama melalui kontribusinya terhadap ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan perdesaan.(*)
Editor : Agus Pramono