SAMPIT – Usai melakukan sidak ke produsen Minyakita, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menemukan pendistribusian minyak goreng itu sampai ke tangan konsumen terlalu panjang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) Kotim, Muslih mengatakan, kondisi tersebut diduga membuat beberapa wilayah memiliki akses pasokan yang berbeda.
Baca Juga: Ironis Sekali! Kabupaten Kotim Penghasil Sawit Terbesar, Minyak Goreng Malah Picu Inflasi
“Misalnya di Pasar PPM, mitranya mungkin lebih sedikit dibandingkan mitra yang ada di Pasar Keramat. Ini yang akan kami coba benahi agar penyebaran lebih merata,” jelasnya, Senin (15/6/2026).
Ia menegaskan, berdasarkan informasi sementara, stok Minyakita di gudang Bulog masih aman dan tidak mengalami kekurangan. Perbedaan harga yang terjadi lebih berkaitan dengan distribusi hingga tingkat pedagang.
“Di gudang Bulog minyak kita tidak kekurangan. Untuk suplai Kotim tidak ada masalah, tinggal bagaimana penyebaran mitra ini bisa lebih optimal,” katanya.
Terkait adanya pengurangan pasokan kepada mitra yang sebelumnya disebut mencapai 50 dus menjadi 20 dus, Muslih mengatakan pihaknya masih menunggu penjelasan resmi dari Bulog.
Baca Juga: Inflasi Kotim Meningkat, Wabup Irawati Sidak Elpiji Subsidi dan Minyakita
“Kami akan rapat dengan Bulog untuk mendapatkan penjelasan, termasuk mengenai pengurangan jatah kemitraan tersebut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga akan menelusuri apabila ditemukan dugaan penimbunan atau permainan harga di tingkat pedagang.
“Kalau nanti ditemukan ada indikasi penimbunan atau permainan harga, tentu akan kita tindak sesuai aturan. Kami juga akan menggandeng aparat penegak hukum,” bebernya.
Pemerintah berharap persoalan distribusi dapat segera diselesaikan agar harga Minyakita kembali mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Produksi Minyakita di Sampit Aman, Tapi Harga di Pasar Tinggi
Pemerintah Kabupaten Kotim juga akan memanggil pihak Bulog dan sejumlah distributor Minyakita untuk mencari penyebab harga minyak goreng bersubsidi tersebut masih tinggi di pasaran. (*)
Editor : Ayu Oktaviana