KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Harga minyak mentah dunia mulai mengalami penurunan. Hal itu terjadi setelah muncul sinyal positif terkait kemungkinan kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Penurunan harga tersebut terjadi setelah pasar merespons kabar adanya peluang kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Mengutip Trading Economics, harga minyak mentah AS pada Senin (15/6/2026) pukul 2.21 WIB, tercatat turun sekitar 5,47 persen menjadi 80 dolar AS per barel.
Sementara minyak mentah Brent sebagai acuan internasional turun 5,01 persen menjadi 83 dolar AS per barel.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak dunia tercatat turun sekitar 6 persen. Meski demikian, angka tersebut masih berada lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik meningkat pada 28 Februari lalu.
Seorang pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyebut peluang kesepakatan antara AS dan Iran cukup besar. Bahkan, kemungkinan perjanjian disebut mencapai 80 persen dalam beberapa hari mendatang.
“Bukan 100 persen. Sistem mereka sangat rumit. Sebagian besar orang yang kami ajak bicara ingin menandatangani kesepakatan ini, tetapi tidak semua orang,” ujarnya dikutip dari CNBC, Senin (15/6/2026).
Salah satu poin penting dalam pembahasan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur laut yang berada di antara Teluk Persia dan Teluk Oman itu menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Jika kesepakatan tercapai, Iran disebut akan membuka kembali akses Selat Hormuz secara bertahap. Sebagai imbalannya, terdapat pembahasan mengenai pencabutan sejumlah pembatasan dan insentif ekonomi.
Namun, proses tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain isu politik, jalur Selat Hormuz juga masih membutuhkan pengamanan sebelum aktivitas pelayaran kembali normal.
Dampak penurunan harga minyak dunia mulai terlihat di Amerika Serikat. Harga bahan bakar minyak (BBM) di negara tersebut ikut mengalami penurunan setelah pasar merespons positif kabar perdamaian.
Pengiriman Minyak dari Teluk Persia Berpeluang Kembali
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa aktivitas pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia berpeluang kembali berjalan setelah tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Pemerintah AS juga disebut akan mencabut pembatasan terhadap sejumlah pelabuhan Iran sebagai bagian dari langkah tersebut.
Kesepakatan itu dikabarkan mencakup komitmen Teheran untuk menghentikan dan membongkar program nuklirnya. Sebagai imbalannya, Iran akan memperoleh sejumlah insentif ekonomi apabila menjalankan poin-poin yang telah disepakati.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi membenarkan adanya kesepakatan tersebut. Ia menyebut dokumen resmi mengenai hasil pembicaraan akan diumumkan setelah proses penandatanganan yang rencananya berlangsung di Swiss.
Bagaimana Harga BBM di Indonesia?
Meski demikian, kondisi berbeda dapat terjadi di Indonesia. Penurunan harga minyak dunia tidak otomatis membuat harga BBM seperti Pertamax langsung turun.
Mengutip Suaradotcom, pengamat energi menyebut harga BBM nonsubsidi memang dipengaruhi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Namun, penetapan harga di Indonesia dilakukan berdasarkan perhitungan dalam periode tertentu, bukan mengikuti perubahan harga minyak setiap hari.
Artinya, meski harga minyak global mulai melemah, Pertamina masih perlu mempertimbangkan sejumlah faktor sebelum melakukan penyesuaian harga.
Selain harga minyak mentah, faktor kurs dolar AS, biaya distribusi, serta kondisi pasar dalam negeri juga menjadi pertimbangan dalam menentukan harga jual BBM.
Perkembangan geopolitik Timur Tengah tetap menjadi perhatian karena kawasan tersebut masih menjadi salah satu pusat produksi dan jalur distribusi energi terbesar dunia. Jika stabilitas kawasan membaik, tekanan terhadap harga energi global berpotensi ikut mereda. (*)
Editor : Ayu Oktaviana