KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Konflik Timur Tengah antara Amerika Serita (AS) dengan Iran akhirnya mereda. Keduanya sepakat berdamai usai menandangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Istana Versailles, Prancis pada Rabu (17/6/2026) waktu setempat.
Total ada 14 poin dalam nota kesepahaman itu. Salah satunya adalah pembukaan Selat Hormuz yang menjadi wilayah krusial bagi pasokan energi dunia.
Presiden AS Donald Trump sendiri menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat (19/6/2026).
“Dengan dibukanya kembali Selat setelah penandatanganan kesepakatan pada Jumat untuk keperluan pembersihan ranjau, minyak akan kembali mengalir di kedua ujung kawasan dan juga dunia,” tulis Trump melalui akun Truth Social, dikutip Kamis (18/6/2026).
Terbukanya jalur tersebut berpotensi menekan harga minyak dunia karena pasokan yang sebelumnya terancam terganggu kembali berjalan normal.
Bagaimana BBM Nonsubidi di Tanah Air?
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan, harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme harga keekonomian yang dipengaruhi oleh harga minyak dunia.
“Apakah harganya bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM nonsubsidi akan turun. Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau tidak terhindarkan dia akan sesuaikan harga keekonomiannya,” kata Anggia, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, perubahan harga minyak global menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan harga jual BBM nonsubsidi, termasuk produk seperti Pertamax.
Mengutip Trading Economics harga minyak mentah jatuh seharga 74 dolar AS per barel. Harga itu turun dari awal Juni sebesar 97 dolar AS per barel.
Meski demikian, penurunan harga minyak dunia tidak serta-merta langsung membuat harga BBM berubah.
Pemerintah dan badan usaha tetap perlu melihat perkembangan pasar serta faktor lain yang mempengaruhi biaya pengadaan energi.
“Kalau tidak (disesuaikan), ini akan mempengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional,” ujarnya.
Anggia menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir harga BBM nonsubsidi di sejumlah negara mengalami penyesuaian akibat pergerakan harga energi dunia.
Sementara Indonesia sebelumnya masih berupaya menjaga kestabilan harga untuk melindungi daya beli masyarakat.
“Kita tahu April kemarin sesuai arahan Presiden pemerintah masih mencoba harga kestabilan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, apabila tren harga minyak dunia terus melemah setelah kondisi geopolitik membaik, maka peluang adanya penurunan harga BBM nonsubsidi semakin terbuka.
“Kalau ditanya harga minyak dunia akan turun nggak? Pasti nanti akan ada penyesuaian juga harga BBM nonsubsidi,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Pramono