PALANGKA RAYA-Kelangkaan elpiji 3 kilogram (kg) masih dikeluhkan sebagian masyarakat dan pelaku usaha kecil di Palangka Raya. Meski Pertamina memastikan stok gas melon di pangkalan resmi tersedia, sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh elpiji subsidi, sehingga terpaksa membeli di tingkat pengecer dengan harga lebih tinggi.
Darsono (49), penjual bakso dan mie ayam di kawasan depan SMK Negeri 3 Palangka Raya, mengaku dalam beberapa pekan terakhir cukup kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg untuk kebutuhan usahanya.
Baca Juga: Warga Palangka Raya Kesulitan Dapat Elpiji Subsidi, Pertamina Sebut Pasokan Tak Berkurang
“Kalau di pangkalan memang masih ada, tapi biasanya cuma dapat satu tabung. Sementara kami perlu lebih dari itu untuk usaha,” ujar Darsono, Senin (22/6/2026).
Darsono mengatakan kondisi tersebut membuat dirinya harus mencari elpiji ke warung atau pengecer. Namun harga yang ditawarkan jauh lebih mahal dibanding harga resmi.
“Kalau di warung sekarang bisa sampai Rp45 ribu per tabung. Dulu sekitar Rp40 ribu. Jadi memang terasa lebih berat,” katanya.
Ia menilai tingginya harga di tingkat pengecer menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha kecil yang setiap hari bergantung pada elpiji untuk menjalankan usahanya.
Baca Juga: Harga Elpiji Subsidi Tingkat Pengecer di Sampit Jadi Persoalan
Selain harga yang tinggi, Darsono juga mengaku harus mengantre ketika membeli elpiji di pangkalan resmi. Kondisi itu menurutnya cukup menyulitkan karena harus membagi waktu antara melayani pelanggan dan mencari pasokan gas.
Warga lainnya Riri, saat mencoba membeli gas melon di sejumlah toko di sekitar tempat tinggalnya, hampir semua penjual memberikan jawaban yang sama, yakni stok sedang kosong. Padahal, secara kasat mata masih terlihat beberapa tabung elpiji tersusun di lokasi penjualan.
“Beberapa hari lalu saya kesulitan mencari gas melon. Di sekitar tempat tinggal saya, setiap toko yang saya datangi menjawab habis. Padahal kalau dilihat ada beberapa tabung yang berjejer. Katanya kosong semua dan belum ada pengantaran lagi,” ujarnya.
“Banyak masyarakat yang bilang gas melon ini memang agak langka akhir-akhir ini. Kebetulan saya baru kehabisan gas, jadi baru merasakan sendiri susahnya mencari elpiji 3 kg,” katanya.
Kesulitan mendapatkan elpiji membuat Riri akhirnya membeli satu tabung gas melon di kawasan Rajawali dengan harga mencapai Rp55 ribu.
Baca Juga: Harga Elpiji Non Subsidi di Kotim Naik, Warga Mulai Mengeluh
Harga tersebut jauh di atas HET elpiji subsidi yang berada di kisaran Rp22 ribu per tabung.
“Kalau mau beli di pangkalan harus antre juga. Kadang sudah antre lama, dapatnya hanya satu tabung,” ujarnya. Meski demikian, ia tetap memilih menggunakan elpiji 3 kg karena dinilai lebih terjangkau dibanding elpiji non-subsidi yang harganya jauh lebih tinggi.
Tim gabungan dari Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DPKUKMP) Kota Palangka Raya bersama Pertamina dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah lokasi penjualan elpiji 3 kilogram, Rabu (24/6/2026).
Sidak dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat terkait dugaan kelangkaan serta kenaikan harga elpiji subsidi yang belakangan menjadi perhatian publik. Dalam kegiatan tersebut, tim menyasar sejumlah titik pangkalan elpiji di Jalan Sultan Hasanuddin dan Jalan Sisingamangaraja dengan mengunjungi tiga pangkalan.
Kepala Bidang Perdagangan DPKUKMP Kota Palangka Raya, Fajar Bhakti, mengatakan sidak dilakukan untuk memastikan kondisi riil harga elpiji subsidi di lapangan sekaligus menindaklanjuti informasi yang beredar mengenai adanya penjualan elpiji eceran hingga mencapai Rp60 ribu per tabung.
Dari hasil pemantauan di lapangan, pihaknya belum menemukan harga elpiji 3 kilogram yang dijual hingga Rp50 ribu maupun Rp60 ribu per tabung sebagaimana informasi yang beredar di masyarakat.
Fajar mengatakan informasinya yang diperoleh dari pangkalan menyebut pihaknya menjual harga elpiji di kisaran Rp22 ribu, sementara harga elpiji subsidi yang ditemukan di tingkat pengecer masih berada pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per tabung.
“Dari beberapa toko yang kami datangi tadi mengaku untuk harga elpiji tiga kilogram ini ada di kisaran harga Rp35 ribu sampai Rp40 ribu. Kami belum menemukan harga mencapai Rp50 ribu lebih, bahkan ada informasi yang menyebut di angka Rp60 ribu,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi harga tersebut sebenarnya sudah berlangsung cukup lama di tingkat pengecer. Meski berada di atas harga eceran tertinggi (HET), harga tersebut masih dianggap sebagai toleransi distribusi berantai sebelum sampai ke konsumen.(*)
Editor : Ayu Oktaviana