Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim, ketiga sektor tersebut memiliki porsi paling dominan dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kotim pada Triwulan I 2026.
Baca Juga: Peternak Lokal Belum Bisa Penuhi Kebutuhan Telur untuk Masyarakat Kotim
Kepala BPS Kotim Eddy Surahman menjelaskan, komposisi tersebut menggambarkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat masih sangat bergantung pada sektor produksi dan distribusi barang.
“Perekonomian Kotim masih ditopang oleh tiga sektor utama. Kontribusi terbesar berasal dari industri pengolahan, kemudian pertanian, dan perdagangan,” katanya, Rabu (1/7/2026).
Dari total PDRB Kotim, industri pengolahan berada di posisi teratas dengan menyumbang sekitar 23,03 persen. Posisi tersebut menunjukkan aktivitas pengolahan hasil produksi menjadi salah satu penggerak terbesar ekonomi daerah.
Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi sebesar 21,50 persen. Adapun perdagangan besar dan eceran, termasuk sektor reparasi kendaraan, berada di angka 19,86 persen.
Baca Juga: Pencurian Sawit Dominasi Kasus 3C di Kotim, Kapolres: Kami Akan Tindak Tegas
Menurut Eddy, tingginya kontribusi sektor tersebut tidak terlepas dari karakter ekonomi Kotim yang masih kuat pada pemanfaatan sumber daya alam dan aktivitas usaha masyarakat.
Salah satu komoditas yang memiliki pengaruh besar adalah kelapa sawit. Komoditas tersebut masuk dalam sektor pertanian, sedangkan hasil pengolahannya seperti crude palm oil (CPO) tercatat sebagai bagian dari industri pengolahan.
“Jadi sawit dari sisi perkebunannya masuk pertanian, sementara ketika sudah menjadi produk olahan seperti CPO masuk dalam industri pengolahan,” jelasnya.
Selain tiga sektor tersebut, beberapa bidang lain juga ikut menopang perekonomian Kotim. Sektor transportasi dan pergudangan tercatat menyumbang sekitar 10,51 persen, kemudian konstruksi sebesar 5,88 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 5,51 persen.
Eddy menyebut, sektor jasa seperti keuangan, pendidikan, pemerintahan, serta teknologi informasi memang belum menjadi penyumbang terbesar, namun perannya terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Ia menilai, pola ekonomi tersebut menunjukkan Kotim memiliki basis ekonomi yang kuat pada sektor riil. Ke depan, perkembangan sektor jasa diharapkan dapat semakin memperkuat rantai ekonomi daerah.
“Struktur ekonomi ini memperlihatkan sektor produksi masih menjadi fondasi utama, sementara sektor pendukung terus berkembang mengikuti aktivitas masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana