BANJARMASIN — PLN Kalselteng menargetkan pada 5 Agustus 2026 kondisi kelistrikan di Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali normal. Syaratnya, satu unit pembangkit PLTU SKS Listrik Kalimantan (SLK) di Kabupaten Gunung Mas berhasil diperbaiki tepat waktu.
PLTU SLK ini memiliki kapasitas 2 x 100 megawatt (MW). Satu pembangkit yang mengalami gangguan saat ini sedang diperbaiki. Jika berhasil, akan ada tambahan pasokan daya sebesar 100 MW.
Hal itu terungkap dalam pertemuan dan koordinasi Gubernur Kalsel H. Muhidin bersama General Manager (GM) PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono dan Saleh Siswanto, Executive Vice President Operational Sumatera Kalimantan PLN, Rabu (29/7) di Banjarbaru, mengutif Radar Banjarmasin, (Grup kaltengpos.jawapos.com).
Sebelumnya pada Selasa, 28 Juli 2026, PLN berhasil memperbaiki satu unit pembangkit PLTU Tanjung Power Indonesia (TPI) di Kabupaten Tabalong. Keberhasilan ini memberikan tambahan pasokan daya sebesar 100 MW.
Iwan Soelistijono mengungkapkan, terjadinya pemadaman bergilir disebabkan tiga unit pembangkit besar (bukan dua seperti diberitakan sebelumnya) di sistem interkoneksi Kalselteng mengalami gangguan dan sedang menjalani proses perbaikan.
Tiga pembangkit yang mengalami gangguan tersebut adalah PLTU Asam-Asam, PLTU Tanjung Power Indonesia (TPI) di Kabupaten Tabalong, Kalsel, serta PLTU SKS Listrik Kalimantan di Kabupaten Gunung Mas, Kalteng.
Iwan Soelistijono menjelaskan, PLTU SKS Listrik Kalimantan (SLK) di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, memiliki kapasitas 2 x 100 megawatt.
"Saat ini Unit 1 beroperasi normal, aman, dan andal, sedangkan Unit 2 yang mengalami gangguan ditargetkan kembali beroperasi pada 5 Agustus 2026 dengan kapasitas 100 megawatt," ujar Iwan, Rabu (29/7/2026), mengutif Radar Banjarmasin (Grup Kalteng Pos)
Baca Juga: Ini Penjelasan GM PLN Kalselteng Soal Pemadaman Bergilir yang Kembali Terjadi di Kalsel dan Kalteng
Selain itu, PLTU Tanjung Power Indonesia (TPI) di Kabupaten Tabalong yang juga berkapasitas 2 x 100 megawatt sebelumnya mengalami gangguan pada Unit 2 sebesar 100 megawatt.
Namun, Iwan memastikan unit tersebut telah berhasil kembali beroperasi penuh sejak 28 Juli 2026, lebih cepat dari target semula pada 30 Juli 2026.
PLN juga menyampaikan bahwa PLTU Asam-Asam Unit 2 dan 3 yang berkapasitas 54 megawatt turut menjadi bagian dari proses pemulihan sistem kelistrikan.
Sementara itu, Saleh Siswanto mengapresiasi perhatian dan dukungan Gubernur Kalsel H. Muhidin dalam mengawal percepatan perbaikan pembangkit kelistrikan di wilayah Kalselteng.
Menurutnya, arahan H. Muhidin menjadi dorongan bagi PLN untuk mempercepat proses pemulihan sehingga dampak pemadaman bergilir dapat segera diatasi.
PLN optimistis setelah pembangkit TPI dan Unit 2 SKS Listrik Kalimantan beroperasi penuh, pasokan daya akan kembali mencukupi sehingga pemadaman bergilir dapat dihentikan.
"Dengan beroperasinya kembali kedua pembangkit berkapasitas masing-masing 100 megawatt tersebut, sistem interkoneksi kelistrikan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara dipastikan akan semakin kuat dan andal dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat," katanya
Dalam pertemuan itu, Gubernur Kalsel H. Muhidin menegaskan bahwa Pemprov Kalsel terus mengawal percepatan pemulihan sistem kelistrikan bersama PLN Pusat, menyusul terjadinya pemadaman bergilir di Kalselteng.
Saat ini, Pemprov Kalsel bersama pihak PLN Kalselteng intensif melakukan pengawalan dan koordinasi penanganan gangguan pasokan listrik di Kalselteng.
Sebagai bentuk keseriusan dan perhatian terhadap kondisi kelistrikan di wilayah Kalselteng, H. Muhidin kembali memanggil dan melakukan pertemuan bersama perwakilan petinggi PLN.
Kali ini, H. Muhidin bertemu dan berkoordinasi langsung dengan jajaran Pimpinan PLN Pusat, yakni Saleh Siswanto (Executive Vice President Operational Sumatera Kalimantan) dan GM PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono, pada Rabu (29/7/2026) di Banjarbaru.
Dalam koordinasi itu, H. Muhidin meminta tim dari PLN Pusat segera turun ke daerah untuk memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kondisi pembangkit listrik yang menjadi penyebab terganggunya pasokan listrik.
H. Muhidin juga meluruskan informasi yang sempat beredar di masyarakat terkait lokasi pembangkit listrik.
Ia menjelaskan bahwa pembangkit berkapasitas 2 x 100 megawatt yang berada di Kabupaten Gunung Mas, Kuala Kurun, Kalimantan Tengah, bukan merupakan IPP Murung Raya sebagaimana sempat diberitakan, melainkan pembangkit milik SKS Listrik Kalimantan (SLK).
Untuk memastikan kondisi di lapangan, H. Muhidin berencana melakukan peninjauan langsung bersama jajaran terkait.
"Insya Allah, minggu depan kita akan melakukan peninjauan di PLTU Asam-Asam bersama jajaran PLN untuk memastikan bahwa proses perbaikan memang berjalan sesuai rencana," kata H. Muhidin. (*)
Editor : Agus Pramono