KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Sebuah informasi tentang penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax bakal turun awal Agustus 2026 beredar di media sosial.
Meski begitu, kepastian mengenai perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada periode penyesuaian 1 Agustus 2026 masih belum diumumkan pemerintah.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan keputusan tersebut masih bergantung pada perkembangan rata-rata harga minyak mentah di pasar internasional.
Mengutip Bloomberg Technoz, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah masih melakukan penghitungan terhadap rata-rata harga minyak dunia sebelum menentukan ada atau tidaknya penyesuaian harga Pertamax Series maupun Dex Series.
Baca Juga: Update Harga BBM di Kalteng 1 Juli 2026: Pertamax Tetap, Sejumlah BBM Nonsubsidi Turun
“Ya (terkait potensi penyesuaian harga Pertamax hingga Dex Series) besok kita cek lagi rata-rata harga internasional,” kata Yuliot di Tapanuli Selatan, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan, harga BBM nonsubsidi memang mengikuti mekanisme pasar. Karena itu, fluktuasi harga minyak global menjadi faktor utama yang menentukan harga jual di dalam negeri.
Menurut Yuliot, kondisi geopolitik dunia yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat harga minyak internasional belum menunjukkan tren penurunan yang konsisten.
“Untuk harga Pertamax ini kan kita mengikuti harga pasar, harga pasar ini kan kalau kita lihat kondisi secara geopolitik, jadi kan juga uncertainty-nya cukup tinggi. Jadi justru di pasar internasional kan harga naik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah tetap mengevaluasi harga keekonomian BBM secara berkala. Apabila rata-rata harga minyak dunia mengalami penurunan, maka Pertamina memiliki peluang untuk melakukan penyesuaian harga.
“Jadi nanti kami dari ESDM itu nanti akan mencoba melihat ya kira-kira harga yang ini keekonomian ya kira-kira bagaimana ya termasuk kalau potensi nanti ini harga itu secara rata-rata turun ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga,” katanya.
Selain memantau harga minyak dunia, pemerintah juga mencermati perubahan pola konsumsi masyarakat. Menurut Yuliot, saat ini mulai terjadi pergeseran penggunaan BBM dari solar nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex ke Solar bersubsidi karena selisih harga yang cukup besar.
Meski demikian, ia berharap implementasi program biodiesel B50 dapat membantu menjaga stabilitas harga BBM nonsubsidi sehingga lebih kompetitif di pasaran.
“Jadi ini masih ada shifting yang dilakukan oleh masyarakat, diharapkan nanti dengan ketersediaan BBM yang lebih cukup dan juga ada implementasi B50 ya justru kita bisa membuat stabil harga sehingga lebih menguntungkan bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, formula penetapan harga BBM nonsubsidi mengacu pada sejumlah komponen, antara lain rata-rata harga BBM di pasar Singapura (Mean of Platts Singapore/MOPS), nilai tukar rupiah selama periode evaluasi, biaya distribusi dan penyimpanan, margin badan usaha, serta pajak bahan bakar kendaraan bermotor.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga membuka peluang penurunan harga BBM nonsubsidi apabila harga minyak mentah dunia benar-benar mengalami penurunan. Bahkan, ia mengaku telah meminta Pertamina dan badan usaha hilir migas swasta untuk segera menyesuaikan harga jika kondisi pasar memungkinkan.
“Bahkan ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM yang ketika harga dunia akan turun, kita sudah mulai meminta kepada pengusaha badan usaha swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, pemerintah tetap mempertimbangkan volatilitas harga minyak dunia agar kebijakan yang diambil tidak memberatkan masyarakat maupun badan usaha. (*)
Editor : Agus Pramono