SAMPIT – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, menjadi salah satu momen mengais rezeki bagi para pedagang kaki lima. Para undangan yang hadir, menjadi salah satu konsumen dan ladang uang.
Melalui sebuah gerobak sederhana, para pedagang kaki lima ini tetap berdiri di kawasan Stadion 29 Nopember Sampit, Senin (17/8/2026).
Tak ada seremoni khusus di sekitar gerobak itu. Para pedagang tetap sibuk melayani pembeli, seperti hari-hari lainnya meski riuah perayaan tampak meriah di bagian dalam stadion .
Meski tak merayakan langsung peryaan yang dihadiri para pejabat di bagian dalam stadion, aktivitas berdagang punya makna tersendiri bagi Yudi, salah satu pedagang pentol yang berjualan di bagian luar stadion.
Setelah hampir satu dekade merantau di Sampit, bekerja untuk bertahan hidup dan menafkahi keluarga menjadi caranya menjalani kemerdekaan.
Yudi merupakan pedagang pentol asal Jawa Timur yang menetap di Sampit sejak 2016. Selama merintis usaha, ia pernah berjualan dengan cara berkeliling sebelum akhirnya memilih menetap di sekitar Stadion 29 Nopember sebagai lokasi berjualan.
Hampir 10 tahun menjalani kehidupan sebagai pedagang kaki lima membuat Yudi memahami betul bagaimana kondisi ekonomi masyarakat ikut menentukan penghasilannya. Belakangan, ia merasakan pembeli semakin berhati-hati mengeluarkan uang.
“Sekarang terasa sekali masyarakat lebih membatasi belanja. Penghasilan tidak banyak berubah, sedangkan kebutuhan sehari-hari terus bertambah,” ujarnya.
Menurut dia, kenaikan harga berbagai kebutuhan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat berpenghasilan terbatas. Kondisi tersebut kemudian turut berimbas kepada pedagang kecil karena jumlah pembelian ikut menyesuaikan kemampuan konsumen.
“Sekarang hampir semua kebutuhan naik. Sementara kemampuan masyarakat untuk belanja tidak ikut naik. Kami yang jualan kecil tentu ikut merasakan dampaknya,” katanya.
Di tengah situasi itu, Yudi memilih tetap menjalankan usahanya. Baginya, menjadi pedagang bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil kerja sendiri.
Perjalanan merantau dan membangun usaha dari bawah membuatnya berharap pemerintah memberi ruang yang lebih besar bagi masyarakat kecil. Ia ingin kebijakan yang dibuat tidak semakin menyulitkan orang-orang yang menggantungkan hidup dari usaha sederhana.
“Kalau saya boleh berharap, jangan sampai masyarakat kecil justru semakin sulit mencari penghasilan. Kami ingin diberi kesempatan untuk bekerja dan mengembangkan usaha,” ucapnya.
Yudi juga meminta perhatian terhadap pedagang kaki lima yang selama ini menjalankan usaha dengan kemampuan terbatas. Menurutnya, keberadaan mereka merupakan bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat yang juga perlu diperhatikan.
“Pedagang kecil itu memulai semuanya dari bawah. Jadi kalau ada kebijakan, kami berharap jangan hanya melihat kewajibannya, tetapi juga bagaimana kami bisa tetap bertahan,” tuturnya.
Pada hari kemerdekaan, Yudi tidak sedang mengikuti perlombaan ataupun berdiri di barisan upacara. Ia justru menghabiskan waktunya di balik gerobak, menyiapkan dagangan dan melayani pembeli.
Bagi dia, kemerdekaan tidak selalu harus dimaknai melalui perayaan besar. Ada bentuk perjuangan lain yang berlangsung setiap hari. Bangun, bekerja, mencari penghasilan, kemudian membawa pulang hasilnya untuk keluarga.
Di tengah bendera Merah Putih yang berkibar memperingati 81 tahun Indonesia merdeka, Yudi menyimpan harapan sederhana agar masyarakat kecil dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak.
“Harapan saya sederhana saja, masyarakat bisa hidup makmur dan kami yang kecil-kecil ini juga diberi kesempatan untuk terus bekerja,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana