KALTENGPOS.JAWAPOS.COM – Siapa yang tak melirik ketika melihat anak muda melaju dengan Suzuki Satria FU 150? Pada era 2005–2015, motor bergaya ayam jago tersebut menjadi salah satu tunggangan yang begitu populer, termasuk di Palangka Raya.
Bodi ramping, bobot ringan, dan suara knalpot yang khas membuat Satria FU 150 mudah mencuri perhatian. Tak hanya laki-laki, perempuan yang mengendarai motor tersebut juga dianggap memiliki daya tarik tersendiri.
Pada masanya, Satria FU 150 bahkan menjadi bagian dari gaya hidup kawula muda. Keberadaannya menjamur di jalanan Palangka Raya dan menjadi salah satu motor yang banyak diburu.
“Dulu memang digandrungi, sekarang sudah biasa melihatnya,” kata Yudha, montir Bengkel IMS di Jalan Rajawali Km 6,5 Palangka Raya.
Baca Juga: Suzuki Nex Keluaran Tahun 2018, Motor Matic Bekas dengan Mesin Bandel Versi Montir
Harga Bekas Kini Anjlok
Suzuki Satria FU 150 pertama kali meluncur di Indonesia pada 2004. Saat itu, harga barunya berada di kisaran Rp16 jutaan untuk wilayah Jakarta dan kemudian mengalami penyesuaian seiring perkembangan tahun.
Menjelang akhir masa produksinya pada 2015, harga motor tersebut telah berada di kisaran Rp20 jutaan.
Namun, kondisi pasar motor bekas saat ini jauh berbeda. Di Palangka Raya, Satria FU lawas dapat ditemukan dengan harga sekitar Rp5 juta hingga Rp9 juta, bergantung pada tahun produksi, kondisi mesin, kelengkapan surat kendaraan, dan keaslian komponen.
“Untuk sekarang, anjlok banget. Kisaran Rp5 juta,” ungkap Yudha.
Harga yang relatif terjangkau membuat Satria FU lawas masih menarik bagi sebagian pencinta motor bebek sport, terutama mereka yang ingin memiliki motor berkarakter dengan dana terbatas.
Ringan, tetapi Mesinnya Bertenaga
Salah satu daya tarik utama Satria FU 150 adalah perpaduan bodi yang relatif ringan dengan mesin berkapasitas 150 cc DOHC.
Kombinasi tersebut membuat rasio tenaga terhadap bobot kendaraan menjadi salah satu keunggulan yang paling banyak dirasakan pengguna. Akselerasinya responsif dan karakter mesinnya terasa agresif untuk ukuran motor underbone.
Salah seorang pengguna Satria FU, Wahyu, mengatakan performa menjadi alasan utama motor tersebut tetap memiliki penggemar hingga sekarang.
“Dengan bobot kendaraan ringan tapi dijejali mesin bertenaga, menjadikan power to weight yang over power. Itu yang membuat Satria disenangi,” kata Wahyu.
Namun, karakter mesin yang bertenaga juga memiliki konsekuensi pada konsumsi bahan bakar. Kapasitas tangki yang hanya sekitar lima liter membuat pengendara perlu lebih sering mampir ke SPBU, terutama ketika motor digunakan untuk perjalanan jauh.
Mesinnya yang bertenaga dan tangki bensinnya sekitar lima liter membuat pemilik sering mampir ke SPBU.
"Kalau dipakai jalan jarak jauh, harus siap-siap bawa bekal BBM, takut tidak ketemu tempat untuk isi BBM,” ujarnya.
Mesin Relatif Minim Perubahan
Salah satu hal yang membuat Satria FU 150 memiliki basis penggemar kuat adalah karakter mesin yang relatif konsisten selama periode produksinya.
Menurut Wahyu, perubahan yang dilakukan Suzuki pada periode 2004–2015 lebih banyak menyentuh desain bodi dan fitur dibandingkan mengubah karakter utama mesinnya.
“Satria FU motor yang paling sedikit ubahan di mesin sejak 2004–2015, membuktikan kualitas yang bagus. Selama ini cuma ganti model bodi saja dengan fitur yang mirip-mirip,” ucapnya.
Perjalanan Satria FU 2004–2015
Satria FU 150 pertama kali masuk Indonesia pada 2004 melalui skema impor utuh atau Completely Built Up (CBU) dari Thailand. Generasi awal ini memiliki ciri khas lampu depan berukuran besar, kick starter dengan posisi miring, serta belum dilengkapi electric starter.
Memasuki periode 2007–2012, produksinya mulai dirakit secara lokal oleh Suzuki Indomobil Motor. Pada generasi ini, Satria FU mendapat sejumlah pembaruan, termasuk electric starter, lampu senja, dan perubahan pada desain bodi.
Kemudian pada 2013–2015, Suzuki menghadirkan versi facelift yang menjadi salah satu generasi terakhir Satria FU karburator.
Desain lampu depan dibuat lebih tajam dengan bentuk menyerupai berlian, sementara panel instrumen telah menggunakan speedometer digital. Pembaruan tersebut juga disertai peningkatan standar emisi.
Meski masa kejayaannya telah berlalu, Satria FU 150 tetap memiliki tempat tersendiri di kalangan pencinta motor lawas.
Motor yang pernah menjadi simbol gaya anak muda pada masanya itu kini justru mulai menarik perhatian sebagai kendaraan bekas dengan harga relatif terjangkau dan karakter mesin yang masih dikenal bertenaga.
Di Palangka Raya, jejak kejayaan “ayam jago” Suzuki tersebut masih mudah ditemukan. Bedanya, jika dulu Satria FU menjadi motor yang membuat banyak mata menoleh, kini daya tariknya lebih banyak datang dari nostalgia dan karakter berkendara yang ditawarkan.(*)
Editor : Agus Pramono