Melihat Wisata Kebun Melon di Sampit: Punya Berbagai Jenis Melon Dengan Rasa yang Manis

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 15:00 WIB
Melon-melon yang ditanam oleh Agus Toyan di Sampit.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)
Melon-melon yang ditanam oleh Agus Toyan di Sampit.(Miftahul Ilma/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Bertani memang menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Terlebih lagi, jika hal itu dibarengi ide cemerlang dalam mengelola hasilnya. Seperti Agus Toyan, seorang petani melon di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

Ia bisa meraup omset puluhan juta rupiah usai berhasil menyulap kebun melon miliknya di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 10 menjadi tempat wisata baru. Setiap kali panen, kebunnya tak pernah sepi. Apalagi jika memasuki musim libur dan akhir pekan. 

Tangan Agus terbiasa bekerja dengan mesin bertahun-tahun lalu. Sebagai seorang mekanik, ia lebih akrab dengan kunci pas, baut dan suara mesin motor. Namun perjalanan hidup membawanya ke dunia yang sama sekali berbeda.

Baca Juga: Kemarau Jadi Tantangan Petani Melon Sampit, Air Sulit tetapi Buah Lebih Manis

Meneruskan warisan sang ayah, Agus justru sibuk mengurus kebun. Cabai dan tomat ia urus. Sekitar satu hektare di antaranya digunakan untuk menanam berbagai jenis melon. Melon itu tidak hanya dipasarkan, tetapi juga menjadi bagian dari wisata petik buah.

Di kebun itu, pengunjung bisa melihat langsung tanaman melon, memilih buah yang diinginkan dan memetiknya sendiri. Harganya tidak usah diragukan. Manis, lembut dan legit. Kata itu yang mungkin digambarkan saat pertama kali menggigit buah hasil panen Agus dan istrinya. 

Usaha tersebut bukan sesuatu yang direncanakan Agus sejak awal. Ia meneruskan jejak sang ayah yang terlebih dahulu menjadi petani melon di Sampit sejak sekitar 2008.

“Bapak kan dulu petani. Dulu saya jual di pasar. Setelah Bapak sudah tua, kita meneruskan. Belajarnya ya otodidak sama Bapak itu,” ujarnya saat ditemui Kaltengpos.jawapos.com, Sabtu (12/9/2026). 

Agus sendiri baru mulai serius terjun ke pertanian pada 2014. Ia kemudian memilih melanjutkan usaha pertanian keluarga. Seiring waktu, melon menjadi tanaman yang paling ia tekuni.

Di kebunnya kini terdapat sejumlah varietas, mulai melon Korea, Inthanon, Sweetnet, melon lokal seperti Merlin, melon madu hingga Golden. Pengunjungpun ia persilahkan mencicipi melon secara cuma-cuma. Setelah dirasa cocok, calon pembeli bisa memetik langsung buah melon dari kebun Agus untuk dibeli. 

Untuk jenis melon eksklusif, Agus mematok harga sekitar Rp40 ribu per kilogram. Sedangkan melon lokal dijual sekitar Rp15 ribu per kilogram. 

Bagi Agus, rasa menjadi ukuran utama. Penampilan buah tidak selalu mencerminkan kualitas bagian dalamnya. Ia bahkan menunjukkan melon yang dari luar terlihat biasa saja. Namun setelah dibelah, warna daging buahnya tampak oranye.

“Rata-rata yang diincar pembeli itu yang eksklusif karena manisnya beda. Walaupun kulitnya jelek, tapi rasanya manis,” katanya.

Selain menanam varietas yang sudah dikenal, Agus juga mulai mencoba melakukan persilangan sendiri. Ia melakukan polinasi antara bibit yang berbeda untuk mendapatkan tanaman baru.

“Kita ngawinkan sendiri, polinasi sendiri kemarin. Antara bibit A dan bibit B kita polinasi, terus kita coba tanam,” jelasnya.

Hasilnya belum bisa disamakan dengan benih F1 produksi pabrikan karena proses tersebut belum dilakukan melalui laboratorium. Meski begitu, Agus melihat ada karakter rasa yang tetap mengikuti indukan.

Eksperimen tersebut masih akan terus dikembangkan. Bahkan ia berencana mencoba persilangan antarmelon eksklusif.

“Kalau rasa, manis dan harum itu pasti, ngikuti indukannya,” ujarnya.

Sebelum kebun dibuka untuk wisata, hasil panen Agus dipasarkan ke pasar lokal dan dikirim ke sejumlah daerah. Mulai pelanggan asal Kota Sampit, hingga luar kota dan luar provinsi

“Ke pasar lokal menjualnya, terus kirim-kirim ke luar kota. Daerah Pangkalan Bun ada, Penajam, ada yang kirim ke Ponti (Pontianak),” tuturnya.

Kini pola tersebut berkembang. Sebagian melon dijual melalui wisata petik, sementara sebagian lainnya tetap dipasarkan ke luar daerah sesuai permintaan. 

“Sebagian kita jual di luar kota dan sini di pasar-pasar regional gitu. Permintaan, tergantung permintaan. Kalau harga cocok, ada yang minta dari Kalbar atau di mana, kita kirim. Ada yang ngambil ke sini, kita enggak ngirim, ambil sendiri,” jelas Agus.

Wisata petik melon sendiri tidak berlangsung sepanjang tahun. Kebun Agus hanya dibuka ketika memasuki musim panen. Biasanya dalam satu tahun, Agus bisa melakukan hingga empat kali panen. 

Menurut Agus, dalam kondisi ramai, buah yang tersedia bisa habis hanya dalam waktu sekitar satu minggu. Jika pengunjung tidak terlalu ramai, paling lama sekitar dua minggu.

“Kalau biasanya ramai satu minggu sudah habis. Kadang dua minggu. Tergantung peminatnya aja,” katanya.

Menurut Agus proses penyemaian hingga panen, bisa memakan waktu sekitar dua bulan.  Dengan jumlah sekitar lima ribu tanaman, Agus memperkirakan hasil panen bisa mencapai sekitar 10 ton apabila setiap tanaman menghasilkan buah rata-rata dua kilogram.

“Itu paling rendah dua kilo, Mas. Ada yang tiga kilo lebih, ada yang empat kilo satu pohonnya. Nah kita rata-rata di dua kilo aja. Kalau 5.000 pohon kan sudah 10 ton sekali panen itu,” ungkapnya.

Untuk pengembangan wisata ke depan, Agus tidak terlalu mengejar momentum libur sekolah atau akhir tahun. Ia justru menargetkan panen bertepatan dengan bulan puasa karena melihat potensi meningkatnya minat masyarakat terhadap buah.

“Ini panen terakhir tahun ini. Nanti Insya Allah panen lagi pas puasa. Puasanya kan liburnya panjang. Apalagi peminatnya untuk buah lebih banyak. Kalau orang ngabuburit, nah,” katanya.

Agus juga memiliki rencana lebih besar. Ia ingin membangun greenhouse khusus tanaman melon. Namun rencana tersebut dilakukan bertahap karena membutuhkan modal cukup besar.

“Rencana mau bikin greenhouse, Mas, nanti kalau ada rezeki. Khusus melon,” ujarnya.

Greenhouse nantinya diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan kebun sekaligus wisata pertanian.

Dari seorang yang awalnya bekerja sebagai mekanik motor, Agus kini justru menemukan ruang hidupnya di antara tanaman melon.

Kebunnya bukan hanya tempat menghasilkan buah, tetapi perlahan menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat langsung proses pertanian sekaligus menikmati hasilnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
Agus Toyan petani melon wisata petik buah pertanian