SAMPIT – Kemarau panjang membuat petani melon asal Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) harus lebih berhati-hati mengelola kebun melonnya. Persoalan terbesar bukan sekadar panas yang menyengat, melainkan ketersediaan air yang harus dijaga setiap hari.
Seorang petani melon asal Sampit, Agus Toyan mengatakan kondisi itu terasa semakin berat karena sebagian lahan yang digunakan untuk menanam melon merupakan tanah berpasir. Air yang diberikan kepada tanaman lebih cepat hilang karena menguap.
Baca Juga: Melihat Wisata Kebun Melon di Sampit: Punya Berbagai Jenis Melon Dengan Rasa yang Manis
“Kendala utamanya di perairannya. Kalau di sini kan airnya agak susah. Apalagi di lahan pasir, cepat habis airnya karena menguap,” katanya kepada Kaltengpos.jawapos.com, Sabtu (12/9/2026).
Untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan air, ia harus melakukan penyiraman secara rutin. Sistem yang dianggap paling efektif adalah menggunakan selang drip atau irigasi tetes.
Beruntung, sumber air dari sumur di kebunnya sejauh ini masih aman. Namun persoalannya adalah proses penyiraman yang masih dilakukan secara manual.
Baca Juga: Viral Larangan Tampung Air Hujan saat Pembenihan Awan, Benarkah? Begini Penjelasannya
“Alhamdulillah sumurnya aman. Sumurnya aman cuma ya kendalanya harus tiap hari. Kita kan masih manual. Kalau sudah pakai selang drip ya aman aja,” jelasnya.
Kemarau juga memengaruhi waktu tanam berikutnya. Setelah panen, Agus biasanya membutuhkan jeda sekitar satu hingga dua bulan sebelum kembali menanam. Lamanya jeda bergantung pada kondisi cuaca.
“Ini kan kemarau, nah ini agak panjang jedanya,” katanya.
Meski memberikan tantangan dari sisi pengairan, kemarau ternyata memiliki sisi lain yang justru menguntungkan untuk rasa melon.
Menurut pengalaman Agus, buah yang tumbuh pada musim kemarau cenderung memiliki rasa lebih manis karena kadar airnya berkurang.
“Kalau kualitas buah, manisnya manis di musim kemarau,” ujarnya.
Baca Juga: BMKG Sarankan Petani Pilih Varietas Tahan Kering, Antisipasi Kemarau Panjang
Namun jika yang dinilai adalah kualitas buah secara keseluruhan, Agus justru menilai musim penghujan lebih baik.
Menurut dia, keunggulan musim penghujan terutama terlihat dari bentuk buah dan kesuburan tanaman.
Perbedaan kondisi cuaca tersebut membuat Agus harus menyesuaikan pengelolaan kebun.
Musim penghujan memberikan dukungan lebih baik terhadap pertumbuhan tanaman, sedangkan kemarau menuntut pengaturan air yang lebih ketat. (*)
Editor : Ayu Oktaviana